
Bagi Sri Wahyuni dan Dhapini Malaika, pulang sekolah bukan waktunya bermain atau beristirahat seperti anak-anak seusianya. Ada pekerjaan yang sudah menunggu mereka setiap hari.

Sepulang sekolah, si kembar yang masih duduk di kelas 5 SD ini langsung berjualan es hingga sore hari. Es yang mereka jual bukan milik sendiri, melainkan dagangan titipan tetangga. Setiap gelas dijual seharga Rp2.000, tetapi Sri hanya mendapat upah Rp200 dari setiap gelas yang terjual.

Uang hasil berjualan itu mereka kumpulkan untuk membantu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan membayar tanggungan di warung.
Kehidupan Sri dan Dhapini berubah sejak kehilangan kedua orang tua. Ayah mereka meninggal dunia, disusul sang ibu setahun kemudian karena sakit. Saat itu, usia keduanya bahkan belum genap 3 tahun.
Kini, Sri dan Dhapini tinggal bersama neneknya, Iyam (70 tahun). Di usia yang sudah senja, sang nenek juga harus berjuang menghadapi berbagai masalah kesehatan, mulai dari rematik, hipertensi, hingga sesak napas.

Di tengah keadaan yang serba terbatas, Sri dan Dhapini tetap menyimpan cita-cita. Mereka ingin menjadi guru ngaji suatu hari nanti.
Keduanya berharap bisa memiliki modal usaha. Dengan begitu, mereka tak lagi bergantung pada dagangan titipan orang lain dan bisa tetap bersekolah tanpa harus terlalu terbebani mencari nafkah.
Saat ini, Sri dan Dhapini membutuhkan dukungan untuk:
Mari hadir untuk Sri dan Dhapini. Ringankan beban yang selama ini mereka pikul agar keduanya bisa kembali fokus belajar, menikmati masa kecil, dan terus mengejar cita-citanya

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik