

Di usia 11 tahun, Hilmi sudah menjalani hari yang jauh berbeda dari anak-anak seusianya. Sepulang sekolah, ia tidak langsung pulang untuk bermain atau beristirahat, tapi bersiap kembali turun ke jalan bersama adiknya untuk berjualan wajit. Dari satu kilo wajit yang dijual seharga Rp2.000, ia hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp6.000 angka kecil yang jadi penopang hidup sehari-hari.
Wajit yang ia jual bukan hasil produksinya sendiri. Hilmi mengambilnya dari bandar di kampung sebelah, lalu menjajakannya berkeliling hingga sore hari. Di rumah, ibunya bekerja sebagai buruh pembungkus wajit dengan upah Rp4.000 per tampir dan hanya mampu menyelesaikan sekitar tiga tampir per hari. Sementara ayahnya sudah lama pergi merantau tanpa kabar hingga sekarang. Dalam kondisi itu, Hilmi dan ibunya menjadi tumpuan terakhir keluarga.

Namun beban Hilmi tidak berhenti di situ. Ia mengalami kondisi kaki kanan yang tidak tumbuh sempurna serta jari tangan kanan yang tidak normal sejak lahir. Kaki palsu yang ia miliki saat ini sudah tidak lagi pas, bahkan sering melukai jika digunakan terlalu lama. Meski begitu, ia tetap memaksakan diri untuk berjalan, karena berhenti bukan pilihan ketika adiknya tidak sekolah dan kebutuhan rumah tidak menunggu.
Di sela-sela jualan, Hilmi juga harus menghadapi hal yang tidak seharusnya dialami anak seusianya, dirundung oleh teman sebaya. Namun semua itu tetap ia tahan, karena setiap langkah yang ia ambil hari itu bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk adiknya yang masih bergantung padanya.

Di tengah kondisi yang semakin berat, Hilmi menyimpan harapan sederhana: bisa memiliki kaki palsu yang layak agar tidak lagi kesakitan saat berjalan, bisa kembali fokus sekolah tanpa harus khawatir soal biaya, dan suatu hari memiliki modal usaha agar ibunya tidak lagi bekerja terlalu berat.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik