

Masa kecil seharusnya diisi dengan belajar, bermain, dan mengejar cita-cita. Tapi bagi enam anak ini, sepulang sekolah bukan waktunya untuk bermain.
Mereka justru harus berjualan demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Sophia, Berjualan Minuman Sepulang Sekolah
Sophia Julia Agustin masih berusia 10 tahun. Sophia tinggal bersama neneknya. Di rumah, nenek Sophia juga sudah tidak kuat bekerja. Kakinya pernah patah dan tidak mendapat pengobatan, sementara mereka tinggal di rumah milik orang lain yang sewaktu-waktu bisa diminta untuk dikosongkan.
Sepulang sekolah, Sophia berjualan minuman dingin hingga sore atau malam. Satu plastik hanya dijual Rp2.000, dengan keuntungan sekitar Rp500–1.000.
Mikayla, Menjual Kelapa di Usia 7 Tahun
Mikayla baru berusia 7 tahun. Sepulang sekolah, ia berjalan berkeliling kampung menjual kelapa tua dengan harga sekitar Rp5.000 per buah.
Ia tinggal bersama kakek dan nenek yang sudah tidak lagi produktif, serta adiknya yang masih berusia 4 tahun. Ibunya telah meninggal, sementara ayahnya sudah menikah lagi.
Di usia yang begitu kecil, Mikayla sudah ikut memikirkan kebutuhan keluarganya. Bahkan keluarga mereka masih memiliki utang sekitar Rp800 ribu di warung.
Siti Yasmin, Menjual Opak untuk Membantu Nenek
Siti Yasmin berusia 10 tahun. Setiap pulang sekolah, ia menjual opak dan makanan ringan dengan keuntungan sekitar Rp5.000–10.000 per hari.
Uang hasil berjualan digunakan untuk membeli makanan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan membantu membayar utang keluarga sekitar Rp470 ribu.
Yasmin tinggal bersama neneknya yang memiliki penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan sering sesak napas.
Lovely, Sejak Kelas 1 SD Sudah Berjualan
Lovely Ayasya Prinsinsa juga baru berusia 10 tahun. Sejak kelas 1 SD, ia sudah berjualan gorengan hampir setiap hari. Lovely tinggal bersama neneknya yang sering sakit dan menjadi orang yang paling ia sayangi.
Selain mencari penghasilan, Lovely juga membantu merawat neneknya. Ia hanya ingin terus sekolah dan tetap bisa menjaga keluarganya.
Hilmi Tetap Berjualan Meski Memiliki Keterbatasan
Hilmi berusia 11 tahun dan setiap pulang sekolah berjualan wajit hingga sore.
Sejak kecil, Hilmi memiliki keterbatasan pada jari tangan dan kaki kanannya. Namun, Hilmi tetap berjualan. Ia ingin membantu ibunya dan adiknya, sekaligus punya cita-cita untuk melanjutkan pendidikan di pesantren dan hidup mandiri.
Hilmi juga berharap bisa mendapatkan kaki prostetik agar aktivitasnya lebih mudah.
Fikri, Empat Tahun Berjualan untuk Keluarga
Fikri berusia 12 tahun. Selama sekitar empat tahun, ia sudah berjualan makaroni sepulang sekolah.
Satu bungkus hanya memberinya keuntungan sekitar Rp200. Jika dagangannya habis, penghasilannya sekitar Rp20 ribu.
Fikri tinggal bersama neneknya yang sudah tidak bisa banyak beraktivitas karena sakit pada bagian kaki. Pernah suatu hari tidak ada beras di rumah. Fikri terpaksa menggunakan uang hasil jualannya untuk membeli beras, tetapi uang yang dimilikinya tidak cukup.
Jangan sampai perjuangan mereka mencari nafkah membuat waktu belajar mereka semakin berkurang. Jangan biarkan keterbatasan ekonomi membuat pendidikan dan cita-cita mereka terhenti.
Dukungan yang Bisa Diberikan
Donasi yang terkumpul akan membantu memenuhi kebutuhan mereka melalui:
· Santunan tunai, untuk meringankan kebutuhan keluarga.
· Bantuan pendidikan, seperti seragam, sepatu, tas, buku, alat tulis, dan kebutuhan sekolah lainnya.
· Kebutuhan pokok, seperti beras dan makanan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mari ringankan beban anak-anak ini. Bantu agar setelah pulang sekolah, mereka bisa kembali menjadi anak-anak yang belajar, bermain, dan mengejar cita-cita. Bukan terus memikirkan bagaimana keluarganya bisa bertahan hari demi hari.
![]()
Belum ada Fundraiser