ImageHadiahkan Kado THR Lebaran Terbaik untuk Pahlawan ...
Image

Hadiahkan Kado THR Lebaran Terbaik untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Pedalaman

Rp 0 terkumpul dari Rp 100.000.000
0 Donasi 3 bulan, 17 hari lagi

Penggalang Dana

Image
Image
Verified Organization

Sebentar lagi gema takbir berkumandang. Di saat kita sibuk menghitung hari menanti turunnya THR untuk membeli baju baru dan hidangan lezat di meja makan, pernahkah kita memikirkan nasib para pahlawan tanpa tanda jasa di pelosok desa?

Bagi ribuan Guru Honorer dan Guru Ngaji, jangankan membayangkan indahnya mendapat THR Lebaran. Untuk bisa makan esok hari dan membeli obat bagi anak-anak mereka yang sakit keras saja, mereka harus memeras keringat dan air mata.

Mari sejenak kita lihat realita pahit saudara-saudara kita, para pejuang pendidikan yang rela tak dibayar mahal demi cerdasnya anak bangsa:

Pak Ade (58): 19 Tahun Mengabdi, Kini Kehilangan Tempat Tinggal Bersama 2 Anak Sakit Keras Selama 19 tahun, Pak Ade setia mengajar dengan upah hanya Rp 400.000. Angka yang jauh dari kata cukup. Kini rentetan ujian menghantamnya: putri kesayangannya koma akibat tabrak lari dan butuh biaya besar, sementara putra lelakinya mengalami disabilitas intelektual.

Lebih memilukan lagi, ruang kelas kosong yang selama ini menjadi satu-satunya tempat keluarganya menumpang, kini sudah tidak bisa digunakan. Pak Ade resmi kehilangan tempat tinggal di masa tuanya. Bapak bingung harus bawa anak-anak tidur di mana... Gajinya buat makan besok saja susah, rintihnya bergetar.

Bu H. Aisyah / Bu Siyah (74): Mengajar Ngaji Gratis Sejak 1969, Sambil Rawat Anak Keterbelakangan MentalJauh di pelosok Cipongkor, Bu Siyah mendedikasikan hidupnya mengajar ngaji tanpa pamrih sejak tahun 1969. Beliau bahkan menjadi pembina bagi 80 anak yatim di desanya.

Namun di balik ketangguhannya mengasuh anak orang lain, Bu Siyah memikul kesedihan. Putri kandungnya, Siti Safa (18 tahun), mengalami keterbelakangan mental akibat kejang parah saat bayi. Di usia senjanya, Bu Siyah terus berjuang merawat sang anak sendirian dalam himpitan ekonomi.

Bu Omah (65): Buruh Tani, Guru Ngaji, Sekaligus Tulang Punggung Anak dengan Gangguan Jiwa Pagi hingga siang memeras keringat mencangkul sawah orang, sore harinya Bu Omah membaktikan diri mengajar ngaji. Semua dilakukan sendirian karena ia adalah tulang punggung keluarga. Setiap pulang mengajar, tubuh rentanya harus kembali mengurus anaknya yang menderita gangguan jiwa. Jika ia tumbang, siapa yang merawat anaknya?

Para Penderma sungguh ironis. Mereka mengorbankan masa mudanya untuk mendidik anak-anak kita, namun siapa yang memberikan apresiasi saat mereka menangis diuji kemiskinan dan penyakit?

Jangan biarkan pahlawan pendidikan dan guru ngaji kita bersedih di hari raya. Jika kita bisa menikmati THR dari tempat kita bekerja, mari kita patungan memberikan Kado THR Spesial & Bantuan Darurat sebagai bentuk balas budi terbaik untuk mereka.

Baca selengkapnya ▾

  • March, 12 2026

    Campaign is published

Belum ada donasi untuk penggalangan dana ini

Fundraiser

Belum ada Fundraiser

Mari jadi Fundraiser dan berikan manfaat bagi program ini.

Doa-doa orang baik

Menanti doa-doa orang baik

Bagikan melalui:
✕ Close