
“Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim No. 1631)

Di sebuah sudut Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kampung Lait, Kecamatan Elar, terdapat sebuah bangunan tanpa nama. Warga menyebutnya mushola, namun sejatinya ia hanyalah sebuah rumah adat tua yang telah rapuh dimakan usia.
Bagi 30 kepala keluarga (sekitar 50 jiwa) di sana, bangunan ini adalah satu-satunya pilihan. Bukan karena mereka ingin, tapi karena memang tak ada tempat ibadah lain.
Kondisi mushola saat ini sangat memprihatinkan:
Tangga Kayu Rapuh: Anak-anak sering terpleset saat naik untuk sholat.
Dinding & Rangka Lapuk: Bambu dan kayu perlahan mulai hancur.
Atap Bocor: Setiap hujan turun, air membasahi lantai tempat sujud.
Ancaman Roboh: Saat hujan deras, warga hanya bisa berdoa: Apakah bangunan ini masih akan berdiri besok?


Mayoritas warga Kampung Lait adalah mualaf. Mereka adalah orang-orang yang baru mengenal Islam dan sedang semangat-semangatnya belajar mencintai sholat dan mengaji.
Bagi mereka, mushola ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah pusat peradaban, tempat anak-anak mengenal huruf hijaiyah, dan tempat para orang tua memperdalam iman. Namun, rasa cemas seringkali menghantui kekhusyukan sujud mereka.

#OrangBaik, maukah kita menjadi jawaban atas doa-doa mereka?
Bayangkan setiap sujud, setiap ayat Al-Qur'an yang dilantunkan, dan setiap ilmu yang diajarkan di mushola baru nanti, pahalanya akan terus mengalir kepada Anda sebagai sedekah jariyah.
Mari bantu bangun Mushola Kampung Lait yang layak. Agar sujud mereka tak lagi ditemani rasa takut, melainkan ketenangan.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik