
Empat bulan sudah sejak kepergian Nenek Emeh (85), istri tercinta Abah Endi. Sejak saat itu, Abah Endi (80) harus menjalani hari-harinya seorang diri di rumah sederhana. Di usia yang seharusnya menjadi masa beristirahat dan menikmati kebersamaan keluarga, Abah justru masih harus berjuang keras demi memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Selama kurang lebih 12 tahun, Abah Endi mencari nafkah dengan berjualan unggas seperti entok dan ayam keliling kampung. Setiap pagi, Abah mengayuh sepeda tuanya yang kondisinya sudah rusak untuk menawarkan dagangannya dari rumah ke rumah. Unggas yang dijual bukan miliknya sendiri, melainkan titipan dari tetangga. Dari setiap ekor yang berhasil terjual dengan harga sekitar Rp40.000 hingga Rp60.000, Abah hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp2.500.
Penghasilan yang didapat tentu jauh dari cukup. Dalam sehari, rata-rata hanya dua ekor unggas yang terjual. Bahkan tidak jarang Abah pulang tanpa membawa keuntungan sama sekali karena dagangannya tidak laku. Namun, Abah tetap berjualan. Baginya, berhenti berarti tidak ada uang untuk membeli beras dan memenuhi kebutuhan hidup yang paling dasar.
Perjuangan Abah semakin berat ketika beberapa waktu lalu ia menjadi korban penipuan. Seseorang berpura-pura membeli dagangannya dan berjanji akan mengambil uang di ATM. Namun setelah ditunggu, orang tersebut tidak pernah kembali. Akibat kejadian itu, Abah kehilangan uang sebesar Rp75.000, jumlah yang mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi sangat berarti bagi Abah untuk bertahan hidup beberapa hari ke depan.
Di tengah keterbatasannya, Abah juga harus tinggal di rumah yang kondisinya memprihatinkan. Atap rumah yang sudah banyak berlubang membuat air hujan mudah masuk dan membasahi bagian dalam rumah. Sementara itu, sepeda tua yang menjadi satu-satunya alat mencari nafkah juga semakin rusak, terutama pada bagian rem yang sudah tidak berfungsi dengan baik.
Meski hidup dalam kesulitan, Abah Endi tidak memiliki harapan yang muluk-muluk. Ia hanya ingin tetap bisa membeli beras untuk makan, memperbaiki sepeda agar tetap dapat berjualan, dan membenahi atap rumah agar tidak lagi bocor saat hujan turun.
Perjuangan Abah Endi di usia 80 tahun mengingatkan kita bahwa masih banyak lansia yang harus bekerja keras demi bertahan hidup. Mari ringankan beban Abah dengan mengulurkan bantuan terbaik yang kita mampu. Berapa pun donasi yang diberikan akan sangat berarti untuk membantu kebutuhan hidup, perbaikan sepeda, dan renovasi rumah sederhana tempat Abah berteduh.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik