
Gempa bumi berkekuatan M7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8) tidak hanya meninggalkan kerusakan pada rumah warga. Sejumlah fasilitas umum dan rumah ibadah juga ikut terdampak.
Gereja menjadi bagian dari bangunan yang turut merasakan dampak gempa. Di tengah proses evakuasi dan pendataan kerusakan, masyarakat kini harus menghadapi kondisi lingkungan yang berubah akibat bencana.

Bagi masyarakat, rumah ibadah bukan sekadar bangunan.
Gereja menjadi tempat umat berdoa, berkumpul, dan saling menguatkan. Di tengah kehidupan masyarakat, rumah ibadah juga memiliki peran penting sebagai ruang kebersamaan dan pelayanan.
Ketika bangunannya ikut terdampak gempa, aktivitas di dalamnya pun berpotensi terganggu.
Bagi umat yang selama ini datang untuk beribadah, kerusakan tersebut bukan hanya persoalan fisik. Ada ruang kebersamaan yang harus kembali dipulihkan. Ada aktivitas pelayanan yang perlu terus berjalan. Dan ada masyarakat yang membutuhkan tempat untuk kembali menemukan ketenangan setelah menghadapi bencana.
Gempa mungkin berlangsung hanya dalam hitungan detik. Namun, pemulihan setelahnya bisa membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.
Warga tidak hanya membutuhkan tempat tinggal yang aman. Mereka juga membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar, mendapatkan akses layanan, membersihkan lingkungan terdampak, serta memulihkan fasilitas yang selama ini menopang kehidupan mereka.

Karena itu, perhatian terhadap korban gempa NTT tidak boleh berhenti setelah guncangan mereda.
Mereka masih membutuhkan kita setelah berita tentang gempa mulai berlalu.
Di balik rumah ibadah yang terdampak, ada doa-doa yang tetap ingin dipanjatkan, ada tangan-tangan yang ingin kembali saling menguatkan.
Mari titipkan doa, kepedulian, dan dukungan terbaik kita.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik