
Di saat anak-anak kita bisa belajar di ruangan yang hangat dan menyantap hidangan bergizi di rumah, ribuan santri pelosok harus berjuang menahan perihnya lapar dan dinginnya malam demi menjaga ayat-ayat suci.


Kenyataan pahit ini bukanlah karangan, melainkan potret nyata perjuangan pondok pesantren kecil di pelosok negeri yang seringkali luput dari pandangan kita. Mereka berjuang sendirian mencetak generasi berakhlak di tengah himpitan ekonomi yang mencekik.
Makan Hanya dengan Nasi dan Garam di Ponpes Nurul Iman Menyayat hati rasanya melihat piring makan 73 santri di Ponpes Nurul Iman, Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Di pesantren yang berdiri sejak 1973 ini, para santri menuntut ilmu tanpa dipungut biaya sepeser pun. Namun di balik keikhlasan itu, ada perut-perut kecil yang kelaparan. Tak jarang, mereka hanya makan dengan sekepal nasi bertabur garam.
Tanpa adanya donatur tetap, Ustadz Husen sang pengasuh pesantren harus menanggung beban operasional Rp15 juta setiap bulannya. Meski mengidap asam urat, beliau rela banting tulang menjadi buruh penjahit jaket. Pernah suatu hari beliau meneteskan air mata dalam diam, merasa tak berdaya karena tak punya uang sama sekali untuk membelikan lauk pauk bagi santri-santrinya.

Menahan Angin Malam di Reruntuhan Ponpes Nuurul Abshor Kepedihan lain dirasakan oleh puluhan santri Pondok Pesantren Nuurul Abshor di dinginnya pegunungan Pangalengan. Tragedi kebakaran nahas telah melalap habis bangunan lantai dua pondok mereka. Kini, ruang kelas yang hangat itu tinggal puing.
Sebagai gantinya, anak-anak yatim dan dhuafa ini terpaksa mengaji di teras warga, garasi, hingga tenda darurat. Angin malam khas pegunungan bebas menusuk tulang mereka setiap sehabis Maghrib. Mayoritas orang tua santri yang hanya buruh harian lepas sudah bergotong-royong menyisihkan sisa uang makan, namun pembangunan terpaksa mangkrak karena kehabisan biaya operasional.

Sahabat, Jangan Biarkan Perjuangan Mereka Meredup Kisah Ponpes Nurul Iman dan Nuurul Abshor adalah panggilan hati untuk kita semua. Mari satukan kepedulian melalui gerakan Bantu Para Santri Pelosok. Jangan biarkan suara ngaji mereka terhenti karena sakit akibat kurang gizi atau kedinginan tanpa atap yang layak.
Setiap rupiah yang kamu sedekahkan akan sangat berarti dan disalurkan dalam bentuk:
Mari menjadi bagian dari kebaikan yang usianya lebih panjang dari umur kita. Jadikan sedekahmu sebagai pelindung dan penguat langkah para santri di pelosok negeri!


![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik