
Bagi kita yang dikaruniai penglihatan sempurna, membaca Al-Quran mungkin semudah membuka lembaran kertas di rumah atau melihat layar ponsel. Namun, pernahkah kita membayangkan bagaimana perjuangan saudara-saudara kita yang tunanetra? Untuk melantunkan firman Allah, mereka harus meraba dalam gelap. Mengeja huruf demi huruf hijaiyah hanya dengan mengandalkan kepekaan ujung jari mereka.

Faktanya, semangat mereka yang menyala untuk mengaji seringkali terbentur oleh realita yang pahit. Tidak seperti Al-Quran cetak biasa yang harganya terjangkau, satu set Al-Quran Braille 30 Juz ukurannya sangat besar dan harganya bisa mencapai jutaan rupiah! Mahalnya harga ini membuat Al-Quran Braille sangat langka dan tak terjangkau, terutama bagi tunanetra dari kalangan dhuafa.
Kenyataan memilukan inilah yang setiap hari dihadapi oleh adik-adik dan saudara kita di Panti Titian Bangsa (Majelis Taklim Netra Nurul Ihsan) di Cimahi.
Di panti ini, terdapat 14 penghuni tunanetra yang menetap. Banyak dari mereka yang sudah tidak memiliki keluarga atau dukungan finansial dari siapa pun. Panti inilah satu-satunya rumah, tempat bernaung, sekaligus sekolah agama bagi mereka. Selain 14 penghuni tetap, ada sekitar 200 jamaah tunanetra dhuafa dari berbagai daerah yang rutin datang ke sini dengan meraba-raba jalanan demi bisa belajar agama bersama.

Namun, ujian mereka saat ini sangatlah berat. Panti yang berdiri sejak 2019 ini tidak memiliki donatur tetap, sehingga nasib anak-anak tunanetra di dalamnya sedang terancam.
Pengurus harus memutar otak setiap hari karena untuk biaya makan 14 penghuni saja membutuhkan Rp 500.000/hari. Belum lagi untuk air bersih, listrik, dan subsidi transportasi agar jamaah tunanetra dari luar kota tetap bisa datang mengaji. Seringkali kas panti benar-benar kosong, membuat ancaman kelaparan membayangi mereka. Bagaimana mereka bisa fokus menghafal dan meraba ayat-ayat Allah jika perut mereka keroncongan?
Ditambah lagi, ketersediaan Al-Quran Braille di panti ini masih sangat terbatas. Anak-anak dan jamaah terpaksa harus antre dan bergantian menggunakan Al-Quran Braille yang titik-titik timbulnya sudah mulai rata dan usang. Padahal, untuk patungan membeli yang baru sangatlah mustahil bagi mereka yang sehari-hari saja kesulitan mencari makan.
Sahabat, mayoritas dari mereka adalah dhuafa. Jika panti ini sampai berhenti beroperasi karena kehabisan biaya, kemana lagi 14 anak tunanetra ini harus pulang? Kemana 200 jamaah ini harus mencari ilmu?

Mereka tak butuh cahaya lampu untuk membaca firman-Nya, tapi mereka butuh uluran tangan kita. Jangan biarkan semangat ngaji 14 anak tunanetra dan ratusan jamaah dhuafa ini padam.
Yuk, salurkan sedekah dan wakaf terbaikmu yang akan dialokasikan untuk:
Satu titik huruf hijaiyah Braille yang mereka raba dari sedekah Anda, insya Allah akan mengalirkan pahala jariyah yang tak pernah terputus.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik