

Bayangkan dinginnya angin malam di daerah pegunungan Pangalengan, Kabupaten Bandung yang berjarak 2 jam dari pusat kota. Di sanalah, tepatnya di Margaluyu, puluhan santri Pondok Pesantren Nuurul Abshor kini terpaksa menahan dingin saat mengaji selepas Maghrib.
Mereka kini kehilangan ruang kelas yang hangat. Pada bulan Mei 2025 lalu, sebuah tragedi nahas terjadi. Korsleting listrik memicu kebakaran hebat di malam hari saat warga beristirahat. Api dengan cepat melalap bangunan lantai dua pesantren yang mayoritas terbuat dari kayu, menghanguskan ruang kelas hingga fasilitas penting seperti komputer kantor ludes tak tersisa.

Akibatnya, kegiatan belajar mengajar harus dipecah dan diungsikan sementara ke empat titik darurat: rumah warga, garasi, mushola, hingga tenda. Tanpa bangunan paten yang melindungi, angin malam bebas menusuk tulang anak-anak yang sedang melantunkan ayat suci, membuat proses belajar menjadi sangat tidak nyaman dan kurang efektif.
Padahal, Pondok Pesantren Nuurul Abshor adalah jantung syiar agama bagi sekitar 640 warga (1 RW) di wilayah tersebut, mulai dari anak usia SD hingga warga dewasa yang rutin mengikuti pengajian bulanan. Santri-santrinya didominasi oleh anak-anak yang secara ekonomi keluarganya pas-pasan, termasuk di dalamnya 7 orang anak yatim dan belasan dhuafa.

Bagaimana tidak, sekitar 90% warga di sana bermatapencaharian sebagai buruh harian lepas dengan kondisi keuangan yang tidak stabil. Jangankan untuk membangun gedung mewah, tenaga pengajar di pondok ini pun (yang merupakan warga sekitar dan alumni) mengabdi dengan ikhlas meski hanya dibayar Rp35.000 per harinya.
Meski hidup pas-pasan, kecintaan warga pada pondok ini sangat luar biasa. Semua urusan pembangunan dan perbaikan pasca kebakaran murni mengandalkan keringat, gotong royong, dan swadaya uang sisa makan warga sekitar.
Sayangnya, niat baik tak selalu berjalan mulus. Saat ini, pembangunan terpaksa mandek selama 1 bulan penuh karena kehabisan biaya. Untuk bisa membangun kembali pesantren ini agar layak dan nyaman, dibutuhkan biaya total sebesar Rp800.000.000. Angka yang teramat besar bagi para buruh harian lepas di sana.

Sahabat #OrangBaik, jangan biarkan suara ngaji anak-anak yatim dan dhuafa di Pangalengan ini meredup karena kedinginan. Mari kita gotong royong lanjutkan perjuangan warga Margaluyu!
Setiap rupiah yang kamu sedekahkan akan sangat berarti untuk mewujudkan kembali ruang kelas yang hangat bagi mereka

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik