
Di usia yang seharusnya menjadi waktu untuk lebih banyak beristirahat, Abah Nana Hidayat masih harus bekerja setiap hari. Memasuki usia 71 tahun, Abah Nana tetap berkeliling menjajakan bambu demi memenuhi kebutuhan hidup dan merawat istrinya di rumah.

Selama kurang lebih 35 tahun, bambu menjadi sumber penghasilan Abah Nana. Ia mengambil bambu dari bandar dengan harga Rp7.500 per batang, kemudian menjualnya kembali seharga Rp10.000. Dalam satu roda, biasanya terdapat sekitar 19-20 batang bambu. Dari setiap batang, keuntungan kotor yang diperoleh Abah hanya sekitar Rp2.500.
Perjuangan itu dimulai sejak malam hari. Abah berangkat dari rumah sekitar pukul 10 malam dan baru tiba di area berjualan sekitar pukul 4 pagi. Setelah itu, ia berkeliling menjajakan bambu mulai pukul 8 pagi hingga sore hari di sejumlah wilayah seperti Rancaekek, Bojong Emas, Dangdeur, Talun, Solokan Jeruk, hingga Majalaya.
Namun, mencari nafkah bukan satu-satunya tanggung jawab yang harus dipikul Abah Nana. Di rumah, ada sang istri, Nenek Nani, yang telah berusia 66 tahun dan mengalami demensia. Keempat anak mereka pun sudah tinggal terpisah, sehingga Abah tetap menjalani hari-harinya dengan berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus merawat istrinya.
Di tengah perjuangannya, kondisi Abah sendiri juga tidak baik-baik saja. Ia mengalami tremor parah yang hingga kini belum pernah mendapatkan pengobatan karena keterbatasan biaya. Bahkan, aktivitas berkeliling menjual bambu juga pernah membuat Abah mengalami kecelakaan setelah terserempet mobil dan dimarahi pengguna jalan karena dianggap menghalangi lajur.


Kondisi ekonomi yang sulit membuat Abah juga harus berutang untuk memenuhi kebutuhan makan sekaligus menjadi modal berjualan bambu. Saat ini, tercatat ada utang sebesar Rp5 juta dengan cicilan Rp160 ribu setiap pekan.
Meski begitu, Abah Nana masih terus berusaha. Ia tidak banyak meminta. Yang ia harapkan sederhana: rumahnya yang bocor dapat diperbaiki, istrinya bisa mendapatkan pengobatan, dan ia memiliki jaket yang layak untuk menemani perjalanan panjangnya berkeliling menjual bambu.
Di balik roda bambu yang terus ia dorong setiap hari, ada seorang lansia yang masih berjuang menjadi tulang punggung keluarganya.
Mari bantu ringankan perjuangan Abah Nana dan keluarganya. Dukungan yang diberikan dapat menjadi langkah kecil agar Abah tidak harus menghadapi seluruh beban ini seorang diri.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik