
Bagi Sri Wahyuni dan Dhapini Malaika, pulang sekolah bukan berarti waktunya bermain seperti anak-anak seusianya.

Setiap hari, setelah selesai belajar di kelas 5 SD, si kembar langsung berjualan es hingga sore. Es yang mereka jual pun bukan milik sendiri. Mereka mengambil dagangan dari tetangga dan menjualnya seharga Rp2.000 per gelas. Dari setiap gelas yang terjual, Sri hanya mendapatkan upah Rp200.
Hasil dari berjualan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari sekaligus mencicil utang di warung yang mencapai Rp450.000.
Sejak ayahnya meninggal, kemudian ibunya menyusul setahun setelahnya karena sakit, Sri dan Dhapini harus tumbuh tanpa kedua orang tua. Saat itu, mereka bahkan baru berusia 2 tahun.
Kini, keduanya tinggal bersama sang nenek, Iyam (70 tahun), yang juga memiliki riwayat rematik, hipertensi, hingga sesak napas.

Meski hidup dalam keterbatasan, Sri dan Dhapini tetap punya cita-cita. Keduanya ingin menjadi guru ngaji.
Agar bisa terus sekolah tanpa harus terlalu berat mencari nafkah, mereka berharap bisa memiliki modal untuk membeli es sendiri dan melunasi utang yang masih menjadi tanggungan.
Saat ini, Sri dan Daphini sedang membutuhkan uluran tangan kita. Keperluan mereka diantaranya:
- Modal usaha untuk membeli es sendiri
- Pelunasan utang warung sebesar Rp600.000
- Santunan untuk kebutuhan sehari-hari
- Dukungan pendidikan untuk Sri dan Dhapini
Mari bantu Sri dan Dhapini agar tetap bisa bersekolah, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan mengejar cita-cita mereka.

![]()
Belum ada Fundraiser