

Bejalan dengan kaki terseok, Pak Saepulloh sudah pengkor sejak bayi, sementara mata kirinya tak lagi melihat dunia. Namun setiap pukul 5 subuh, di usia 60 tahun, beliau tetap memaksa tubuh rapuhnya mengayuh sepeda dari kontrakan kecil di Jl. Sulaksana, Cicaheum, Kiaracondong, demi berjualan tisu di jalanan. Di saat banyak orang seusianya beristirahat, Saepulloh justru berjuang melawan keterbatasan demi sekadar bertahan hidup.
Dari menjual tisu seharga Rp5.000 per bungkus, keuntungan bersih yang ia bawa pulang setiap hari hanya sekitar Rp15.000-Rp30.000. Jumlah yang bahkan sering tak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan hariannya.

Perjuangan hidup Pak Saepulloh semakin berat karena disabilitas yang ia derita sejak usia 2 bulan akibat penyakit step. Kaki dan tangannya mengalami kelainan, penglihatannya pun tak lagi utuh. Saat berjualan, ia juga pernah menjadi korban tabrak lari, tanpa ada pertanggungjawaban dari pelaku. Kini, Pak Saepulloh hidup sebatang kara di kontrakan sederhana. Ketika dagangan tak laku, satu-satunya jalan adalah berutang ke warung demi bisa makan.

Harapan Pak Saepulloh sebenarnya sangat sederhana: memiliki sedikit modal usaha agar bisa mandiri, serta bantuan untuk membayar kontrakan. Mari kita ulurkan tangan untuk meringankan beban hidup Bapak Saepulloh. Setiap donasi yang Anda berikan adalah harapan baru, dan napas panjang bagi perjuangan seorang lansia yang tak pernah menyerah pada keterbatasan.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik