
Sopian Saputra atau yang akrab dipanggil Pian adalah seorang anak berusia 10 tahun yang seharusnya menghabiskan masa kecilnya dengan belajar dan bermain. Namun kenyataan hidup memaksanya tumbuh lebih cepat. Sejak kelas 1 SD, Pian sudah berjualan aliagrem keliling kampung demi bertahan hidup. Sepulang sekolah hingga petang bahkan malam, ia berjalan dari satu sudut kampung ke sudut lain, membawa dagangan kecil dengan tenaga yang terbatas.

Pian tinggal bersama kakeknya yang sudah renta dan sakit sakitan. Tidak ada orang tua yang mendampingi, tidak ada penghasilan tetap yang menopang kehidupan mereka. Dari hasil berjualan aliagrem, Pian hanya mendapat keuntungan sekitar Rp200 perak per buah dengan jumlah penjualan yang tidak menentu. Penghasilan itu harus cukup untuk kebutuhan sehari hari, biaya sekolah, dan membantu kakeknya yang sering mengalami sesak napas.

Di balik perjuangannya mencari nafkah, Pian juga menghadapi kondisi kesehatan yang memprihatinkan, yaitu pernah menghadapi sakit tumor tanpa pendampingan orang tua. Kini, ia harus menanggung dampak dari penyakit tersebut, termasuk bekas-bekas tumor yang ia miliki, sembari tetap harus berjualan bahkan di saat ia sendiri sedang sakit. Risiko putus sekolah dan kesehatan yang semakin memburuk terus menghantui hari harinya.
Kesederhanaan hidup Pian tergambar dari hal-hal kecil yang menyentuh hati. Sepatu yang ia kenakan sudah jebol, namun tetap ia pakai setiap hari untuk berjualan dan sekolah. Dengan suara lirih, Pian pernah berkata, “Malu sih (punya sepatu jebol), ya gimana lagi, ini satu-satunya sepatu aku.” Kalimat sederhana itu mencerminkan betapa berat beban hidup yang dipikul oleh anak seusianya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Pian memiliki tanggung jawab dan keteguhan yang luar biasa. Ia rela kehilangan waktu bermain dan istirahat demi bisa terus sekolah dan membantu kakeknya bertahan hidup. Harapan terbesarnya hanyalah bisa belajar dengan layak, hidup lebih tenang, dan melihat kakeknya mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan.
Mari kita hadir untuk Pian, jangan biarkan perjuangan anak sekecil Pian terhenti karena keterbatasan. Bersama, kita wujudkan harapan besar Pian dan kakeknya.


![]()
Belum ada Fundraiser