
Di saat banyak dari kita bisa menikmati masa tua dengan bersantai di rumah, bermain bersama cucu, dan menikmati fasilitas kesehatan yang memadai, pernahkah kita menengok ke luar jendela dan melihat mereka yang usianya sudah senja, tapi masih harus memeras keringat di kerasnya jalanan?
Di luar sana, ada ribuan Lansia Pejuang Nafkah yang tak mengenal kata pensiun atau istirahat. Mereka adalah kakek penjual tisu yang menahan kantuk di lampu merah, nenek pemulung yang membungkuk memungut botol bekas, hingga kakek panggul yang kakinya gemetar menahan beban puluhan kilo.
Bagi mereka, hari ini sama saja dengan hari lainnya. Di benak mereka hanya ada satu ketakutan: Kalau hari ini saya berhenti kerja karena sakit, besok saya dan keluarga mau makan apa?

Di sebuah sudut di Cibedug, Bandung Barat, hidup seorang wanita tangguh bernama Mak Iyet. Di usianya yang telah menyentuh 100 tahun (Satu Abad), Mak Iyet harus bertarung nyawa sendirian. Tanpa suami, tanpa anak.
Pilu di Balik Pisang Rp4.000: Setiap hari, sejak pukul 05.00 subuh hingga malam gelap, ia duduk menunggu pembeli pisang. Harganya hanya 4 ribu rupiah, namun seringkali tak ada satu pun yang terjual.
Puasa Karena Terpaksa: Saat dagangan sepi, Mak Iyet terpaksa berpuasa dan hanya mengganjal perutnya dengan air putih karena tak punya uang untuk membeli beras.
Hidup dalam Gulita: Mak Iyet tinggal di rumah mungil yang sama sekali tidak tersentuh aliran listrik. Di sana, ia menahan nyeri lutut akut dan gangguan paru-paru dalam kesunyian yang mencekam.

Tak jauh berbeda, ada Abah Engkos (70 tahun). Sejak tahun 2001, ia setia memikul jasa asah pisau. Dengan kondisi wajah sebelah kanan yang mengalami kelainan, Abah terus berjalan kaki mengelilingi komplek demi komplek.
Upah yang Tak Sebanding: Mengasah satu pisau hanya dihargai Rp3.000. Jika beruntung, Abah bisa makan nasi dengan garam. Jika tidak, ia dan istrinya terpaksa menyantap nasi sisa kemarin.
Mata yang Terus Menangis: Teriknya matahari membuat mata kanan Abah terus berair dan perih, namun ia tak pernah ke dokter karena keterbatasan biaya. Ia hanya ingin hidup layak tanpa harus menahan sakit setiap hari.
Jangan biarkan keringat dan air mata mereka terus menetes di kerasnya aspal jalanan. Mari jemput keberkahan hari ini dengan memuliakan para lansia pejuang nafkah.
Klik DONASI SEKARANG dan berikan hadiah masa tua yang layak untuk Mak Iyet, Abah Engkos, dan lansia dhuafa lainnya!
![]()
Belum ada Fundraiser