
Di usia yang bahkan masih suka main sepulang sekolah, Abil justru harus keliling jualan demi bertahan hidup.
Setiap hari sepulang sekolah, Abil mengambil dagangan dari warung dekat sekolahnya untuk dijual kembali sampai sore, bahkan kadang hingga malam hari. Keuntungan yang ia dapat tidak besar, hanya sekitar Rp500 sampai Rp2.000. Tapi dari uang kecil itulah Abil berusaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, membayar tunggakan buku, hingga mencicil seragam sekolahnya.
Abil sudah menjalani kehidupan seperti ini bahkan sejak sebelum ia masuk sekolah. Kini, di usianya yang masih duduk di bangku kelas 2 SD, ia harus belajar menjadi kuat jauh lebih cepat dibanding anak-anak seusianya.
Di balik perjuangannya, ada cerita yang begitu berat untuk seorang anak kecil. Ayah Abil telah meninggal dunia. Sementara sang ibu pergi meninggalkannya karena tidak sanggup merawat dirinya. Saat ini, Abil tinggal bersama neneknya, Mak Onih, yang sedang sakit hipertensi dan lambung kronis sehingga sudah tidak mampu beraktivitas seperti biasanya.
Keadaan semakin sulit setelah rumah kecil mereka rubuh dimakan usia. Kini Abil dan Mak Onih hanya bisa menumpang tinggal di rumah Pak RT setempat.
Meski hidup dalam keterbatasan, Abil tetap memilih sekolah dan terus berjualan setiap hari. Bahkan di tengah perjuangannya, ia masih harus menghadapi rundungan dan dipalak oleh teman sebayanya saat berjualan.
Harapan Abil sebenarnya sederhana. Ia ingin tetap sekolah, membantu pengobatan neneknya, dan memiliki modal kecil agar bisa terus berjualan tanpa harus memulai dari nol setiap hari.
Abil sudah menghabiskan masa kecilnya dengan perjuangan, sekarang waktunya dia menikmati masa kecilnya seperti anak-anak lain

![]()
Belum ada Fundraiser