
Di usia yang seharusnya diisi dengan istirahat,
mereka justru masih harus berjalan jauh, menahan sakit, dan bekerja seadanya bukan untuk mengejar mimpi, tetapi sekadar agar dapur tetap mengepul.
Abah Nono (91 tahun) setiap hari berkeliling menjual lap kain. Dari pagi hingga sore, menyusuri jalanan Jatinangor, Majalaya, hingga Sumedang. Keuntungannya tak seberapa, namun harus cukup
untuk menghidupi istri, anak, dan cucu-cucunya.


Abah Deni (60 tahun) adalah tukang sol sepatu keliling. Sejak duduk di bangku SD hingga hari ini, ia berjalan puluhan kilometer dengan keterbatasan penglihatan. Upah yang diterima seikhlasnya, sering kali hanya cukup untuk makan dan berobat sang istri.


Sementara itu, Abah Engkos tetap berjualan mainan sederhana meski tubuhnya tak lagi sehat. Cedera tulang, tumor, dan sakit menahun menjadi teman hariannya dalam berjuang menyambung hidup.


Mereka Tidak Mengeluh, Tapi Kebutuhan Terus Datang
Ketiganya adalah potret pejuang nafkah lansia di sekitar kita yang jarang meminta, jarang mengeluh, dan kerap luput dari perhatian.
Di balik kerja keras mereka, ada kebutuhan yang tidak bisa ditunda: makan harian, biaya pengobatan, dan modal usaha kecil.
Agar mereka dapat bekerja lebih layak dan lebih manusiawi.
Melalui program Pejuang Nafkah Lansia, Penderma.id mengajak Anda
untuk bersama menghadirkan bantuan
bagi para lansia yang masih harus berjuang sendiri. Bantuan yang terkumpul akan disalurkan untuk kebutuhan pokok harian, dukungan biaya pengobatan, dan modal usaha sederhana.
Waktu terus berjalan, sementara usia dan tenaga mereka semakin terbatas.
Saatnya kita hadir untuk mereka yang terus berjuang di usia senja.
![]()
Belum ada Fundraiser