
Nenek kelaperan pun nggak apa-apa, asal bisa betahan hidup. Maafin nenek belum bisa bawa Davin berobat,” ucap Nek Rizi sambil menahan air mata.
Di usianya yang sudah 72 tahun, Nek Rizi seharusnya bisa menikmati masa tua dengan tenang. Namun, ia masih harus bekerja keras demi cucunya, Davin, yang lumpuh sejak usia 4 tahun. Setelah ditinggalkan kedua orang tuanya tanpa kabar, kini hanya Nek Rizi yang merawatnya seorang diri.
Setiap pagi, Nek Rizi berjalan kaki sejauh 10 km menjajakan sayur dari rumah ke rumah. Tubuhnya yang renta terasa semakin berat, tapi ia tetap melangkah demi mencari nafkah. Pulang sebentar untuk merawat Davin—memberinya makan, membersihkan tubuhnya, dan mengurus kebutuhannya—ia lalu kembali melanjutkan dagangannya hingga sore hari.
Namun, penghasilan Nek Rizi sangat kecil. Dari jualan sayur, ia hanya mendapat Rp10.000 per hari jika dagangannya habis. Sebagian besar uangnya harus disetorkan kepada pemilik barang dagangan. Ketika dagangannya tidak laku, Nek Rizi sering menangis diam-diam, merasa gagal memenuhi kebutuhan Davin.
“Nenek takut… Kalau Nenek nggak ada, siapa yang bakal jagain Davin?” ucapnya dengan suara bergetar. Harapannya sederhana: Davin bisa sehat, mendapatkan makanan layak, dan tetap terurus, meski tanpa dirinya.
Davin yang lumpuh membutuhkan perhatian penuh. Ia tidak bisa apa-apa sendiri, bahkan untuk buang air. Rumah Nek Rizi sering dipenuhi kotoran dan urine Davin. Membeli popok untuk Davin adalah kemewahan yang sulit dijangkau, apalagi untuk kebutuhan pengobatan.
“Nenek sedih lihat Davin. Nenek takut kondisinya makin parah, tapi Nenek juga nggak ada uang buat berobat,” ujar Nek Rizi.
Davin pernah menjalani terapi selama empat bulan, tetapi tidak menunjukkan perkembangan. Kini, Nek Rizi hanya bisa berdoa agar ada keajaiban bagi cucunya.
Para penderma, setiap hari adalah perjuangan bagi Nek Rizi dan Davin. Mari kita bantu mereka mendapatkan pengobatan yang layak.
![]()
Belum ada Fundraiser