ImageDitinggal Suami dan Berjuang Melawan Kanker, Mak H...
Image

Ditinggal Suami dan Berjuang Melawan Kanker, Mak Hasanah Bertahan Demi Dua Anak yang Masih Sekolah

Rp 0 terkumpul dari Rp 30.000.000
0 Donasi 30 hari lagi

Penggalang Dana

Image
Image
Verified Organization

Tak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ibu selain melihat masa depan anak-anaknya terancam, sementara dirinya sendiri sedang berjuang melawan penyakit yang perlahan merenggut hidupnya.

Itulah yang dirasakan Mak Hasanah. Sejak tahun 2017, Mak Hasanah harus hidup berdampingan dengan kanker tumor kulit ganas yang terus menggerogoti wajahnya. Hari demi hari, rasa sakit yang luar biasa harus ia tahan. Luka di wajahnya semakin membesar, sementara harapan untuk sembuh perlahan terhambat oleh keterbatasan biaya.

Di tengah perjuangannya melawan kanker, cobaan lain datang silih berganti. Suami yang selama ini menjadi tempat bersandar juga mengalami stroke berkepanjangan hingga akhirnya meninggal dunia. Kepergian sang suami meninggalkan luka mendalam sekaligus beban hidup yang harus dipikul seorang diri.

Kini, Mak Hasanah tinggal bersama kedua anaknya yang masih bersekolah dan ibunya yang telah berusia 81 tahun. Meski tubuhnya terus melemah akibat penyakit yang diderita, pikirannya tak pernah jauh dari kedua buah hatinya.

"Saya hanya ingin melihat anak-anak tumbuh besar," itulah harapan sederhana yang terus ia simpan dalam doa-doanya.

Perjuangan untuk sembuh sebenarnya sudah dilakukan. Mak Hasanah telah menjalani tiga kali operasi. Kondisi wajahnya yang rusak akibat kanker bahkan mengharuskan dokter mengambil kulit dari kepala dan pahanya untuk menutup bagian yang terdampak penyakit.

Namun perjuangan itu belum selesai.

Dokter menyampaikan bahwa masih diperlukan beberapa tindakan medis lanjutan agar peluang kesembuhannya semakin besar. Sayangnya, kondisi ekonomi keluarga membuat pengobatan tersebut terpaksa berhenti di tengah jalan. Tak ada lagi biaya untuk kembali ke rumah sakit. Tak ada lagi dana untuk operasi berikutnya.

Mak Hasanah hanya bisa merawat luka di wajahnya menggunakan ramuan tradisional dan bahan-bahan alami seadanya. Setiap kali ramuan itu dioleskan, terselip harapan agar Allah masih memberinya kesempatan untuk hidup lebih lama. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kedua anaknya yang masih membutuhkan sosok seorang ibu.

Di balik perjuangan Mak Hasanah, ada Nenek Ende yang tak pernah meninggalkannya. Meski telah berusia 81 tahun, sang ibu masih bekerja sebagai buruh pembuat genteng tanah liat dengan upah sekitar Rp30.000 per hari. Bahkan setiap hari, Nenek Ende harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 5 kilometer menuju tempat kerjanya demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan mengusahakan biaya pengobatan anaknya. Namun, penghasilan yang sangat terbatas tentu belum mampu menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, biaya sekolah anak-anak, serta pengobatan kanker yang harus dijalani Mak Hasanah.

Para Penderma, hari ini Mak Hasanah masih berjuang. Ia tidak meminta kehidupan yang mewah. Ia hanya ingin melanjutkan pengobatan agar bisa sembuh dan mendampingi kedua anaknya hingga dewasa.

Mari ulurkan tangan untuk membantu perjuangan Mak Hasanah melawan kanker ganas yang menggerogoti wajahnya. Dukungan dan doa dari kalian akan menjadi harapan baru agar ia bisa kembali menjalani pengobatan dan memiliki kesempatan untuk melihat anak-anaknya meraih masa depan yang lebih baik.

Baca selengkapnya ▾

  • July, 21 2026

    Campaign is published

Belum ada donasi untuk penggalangan dana ini

Fundraiser

Belum ada Fundraiser

Mari jadi Fundraiser dan berikan manfaat bagi program ini.

Doa-doa orang baik

Menanti doa-doa orang baik

Bagikan melalui:
✕ Close