

Sejak pagi buta hingga sore menjelang, Ical setia di warung kecilnya, menjajakan kerupuk yang ia ambil dari tetangga. Harganya murah, mulai dari 2.500 hingga 5.000 rupiah, dengan keuntungan tipis 1.500–2.000 rupiah per buah. Dua tahun sudah ia menjalani rutinitas ini, bukan karena mudah, tapi karena itu satu-satunya cara bertahan hidup.
Setiap kerupuk yang terjual bukan hanya sekadar uang, tapi harapan bahwa hari ini mereka bisa tetap makan, tetap bertahan, dan tetap berharap akan hari esok yang lebih baik.

Ical bukanlah pedagang biasa. Ia lahir dengan kelainan pada kaki yang membuatnya tak bisa berjalan. Ayahnya pergi meninggalkannya saat Ical baru berusia empat bulan karena tak sanggup melihat kondisi buah hati yang berbeda. Sejak itu, Ical hidup bersama ibunya yang bekerja sebagai buruh konveksi dengan upah 25 ribu rupiah per minggu.
Hidup mereka penuh perjuangan, tapi tetap dijalani dengan hati yang kuat. Pengobatan tradisional sudah dicoba, namun tak ada hasilnya. Sekolah pun tak lagi bisa ditempuh karena tak ada yang bersedia menerima, dan biaya ke sekolah luar kota seperti SLB di Bandung jelas tak terjangkau.
Kini, Ical menghadapi krisis yang lebih berat. Ia memiliki tunggakan ke rentenir sebesar 9 juta rupiah, ancaman yang bisa membuat rumah mereka hilang. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung dan bertahan hidup bisa hilang begitu saja. Meski begitu, di balik semua keterbatasan itu, Ical tidak pernah kehilangan mimpinya.

Kamu bisa menjadi bagian dari perubahan ini. Setiap kontribusi bukan hanya angka, tapi kesempatan bagi Ical untuk belajar, untuk bermimpi, dan untuk bertahan di dunia yang penuh tantangan. Jangan biarkan mimpinya tertunda hanya karena keterbatasan hari ini. Dengan satu klik, kamu bisa memberi tidur yang lebih nyenyak malam ini bagi Ical dan ibunya, dan mimpi yang lebih cerah untuk esok hari.
Bantu Ical hari ini. Jadikan mimpinya nyata. Donasi sekarang, karena mimpi tak boleh tertunda.


![]()
Belum ada Fundraiser