

Di saat banyak anak seusianya menghabiskan sore dengan bermain, Ainun justru berjalan menyusuri jalanan kampung sambil membawa dagangan.
Di tangannya, ada kerupuk cilin yang ia jual satu per satu, berharap ada yang membeli.
Setiap hari, sekitar pukul 14.00 hingga 17.00 WIB, Ainun berjualan dengan harga seribu hingga dua ribu rupiah per bungkus. Dari usahanya itu, ia hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000.

Uang yang bagi sebagian orang sangat kecil, tapi bagi Ainun sangat berarti, untuk makan, dan sedikit ditabung demi membeli perlengkapan sekolah.
Perjalanan Ainun tidak selalu mudah. Ia pernah mengalami kejadian menyedihkan, saat dagangannya diambil oleh orang lain. Hari itu, ia pulang tanpa hasil, hanya membawa rasa sedih yang harus ia simpan sendiri.

Sepulang berjualan, Ainun kembali ke rumah sederhana di Kampung Cirawa. Ia tinggal bersama nenek dan kakeknya yang sedang sakit. Neneknya menderita lambung kronis, sementara kakeknya mengalami sesak napas. Di usianya yang masih sangat muda, Ainun harus ikut memikirkan kondisi keluarganya.
Ainun adalah seorang anak yatim piatu. Di tengah keterbatasan, ia tetap menyimpan mimpi: ingin menjadi seorang guru. Ia juga berharap bisa berjualan dari rumah, agar tetap dekat dengan kakek dan neneknya, serta bisa membantu biaya pengobatan mereka dan membeli perlengkapan sekolah yang layak.
Di balik langkah kecilnya setiap sore, Ainun sedang berjuang untuk hidup yang lebih baik.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik