

Di balik tumpukan kerupuk goreng yang Mak Momoh jual, ada kisah perjuangan yang bikin hati terenyuh. Mak Momoh, seorang nenek berusia sekitar 60-70 tahun di Cinunuk, Bandung, seharusnya menikmati masa tua, tapi beliau justru jadi tulang punggung keluarga satu-satunya.
Setiap hari, Mak Momoh bukan cuma harus bekerja, tapi juga merawat suaminya yang sudah sakit parah selama satu setengah tahun.
Suami Mak Momoh, yang dulunya buruh tani, kini cuma bisa terbaring. Sakit lututnya parah, bikin beliau kesulitan jalan—hanya mengandalkan tongkat ke kamar mandi, sisanya di tempat tidur. Beban merawat suami yang sakit keras ini jatuh sepenuhnya ke Mak Momoh, seorang diri. Beliau harus kerja sekaligus jadi perawat 24 jam di rumah.
Cobaan hidup Mak Momoh seakan tidak ada habisnya. Dari empat anak, dua sudah meninggal dunia. Dua anak yang tersisa sudah berumah tangga dan sayangnya tidak bisa memberikan bantuan finansial. Mak Momoh benar-benar berjuang sendirian, tanpa ada uluran tangan dari anak-anaknya.
Dari jualan kerupuk Rp 7.500 per bungkus, Mak Momoh hanya bisa mengantongi uang Rp 60-70 ribu per hari. Uang segitu? Jelas tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi biaya tambahan untuk suami yang sakit.
Dan ini fakta yang paling menyesakkan: Saking harus berhematnya, Mak Momoh jarang sekali membeli beras. Demi mengutamakan kebutuhan suami, beliau sering mengganjal perutnya sendiri hanya dengan roti atau kerupuk yang beliau jual.
Perjuangan Mak Momoh ini bukan lagi soal mencari untung, tapi tentang bertahan hidup dan cinta yang luar biasa kepada suaminya.
Jangan biarkan Mak Momoh berjuang sendirian lagi. Ulurkan tangan Anda hari ini dan berikan harapan agar beliau bisa menikmati masa tua tanpa harus mengorbankan diri sendiri.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik