
Di usia 58 tahun, Bah Ena masih harus berjuang mencari nafkah dengan berjualan anggrek keliling hingga larut malam. Demi memenuhi kebutuhan hidup dan pengobatan putrinya, ia bahkan kerap bermalam di selasar toko yang sudah tutup karena tidak memiliki cukup uang untuk pulang pergi.

Putrinya, Neni Santika (24), telah hidup dengan penyakit paru-paru dan epilepsi sejak usia 4 tahun. Kondisi tersebut membuat Neni harus rutin mengonsumsi obat hingga sekarang. Jika terlambat minum obat atau mengonsumsi makanan tertentu, kejangnya bisa kambuh beberapa kali dalam sehari dan membuatnya tidak sadarkan diri selama berjam-jam.
Sejak kecil, Neni hanya bisa menjalani pengobatan sesuai kemampuan ekonomi keluarga. Penghasilan Bah Ena yang tidak menentu menjadi tantangan terbesar. Dari setiap pot anggrek yang terjual, keuntungan yang didapat hanya sekitar Rp25 ribu. Namun jika dagangan tidak laku, Bah Ena memilih tidur di emper toko daripada pulang tanpa membawa uang untuk keluarga.

Biaya pengobatan juga menjadi beban yang berat. Harga obat yang harus dikonsumsi Neni berkisar Rp6.000 hingga Rp7.000 per butir. Tak jarang Bah Ena hanya mampu membeli obat secara eceran, menyesuaikan dengan hasil jualan yang diperoleh hari itu.
Meski hidup dalam keterbatasan, Bah Ena tidak ingin terus bergantung pada bantuan orang lain. Ia berharap suatu saat memiliki modal untuk beralih berjualan ayam potong agar memperoleh penghasilan harian yang lebih stabil. Dengan begitu, ia dapat memenuhi kebutuhan keluarga, membeli obat, dan membawa Neni menjalani kontrol kesehatan secara rutin.

Hingga hari ini, Bah Ena terus berjuang tanpa mengenal lelah demi kesembuhan dan masa depan putrinya. Mari bersama-sama membantu meringankan beban Bah Ena agar Neni dapat memperoleh perawatan yang layak dan keluarga kecil ini memiliki harapan untuk hidup yang lebih baik. Setiap bantuan yang diberikan akan menjadi dukungan berharga bagi perjuangan mereka.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik