Di saat anak-anak seusianya pulang sekolah lalu bermain,
Aul justru menyusuri jalanan hingga malam hari, membawa dagangan di tangannya. Padahal ia masih duduk di kelas 3 SD dan sudah harus berjualan sejak umur 5 tahun. Bukan karena ingin lebih cepat dewasa. Tapi karena keadaan yang memaksanya.
Dari dagangan itu, Aul mendapat upah sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000 per hari. Itu pun kalau habis terjual. Sementara harga barang yang ia bawa tidak sedikit. Minyak Rp7.500, gula Rp5.000, terigu Rp5.000.
Sedikit demi sedikit, hutang mulai menumpuk. Saat ini, hutangnya sekitar Rp1.300.000. Angka yang mungkin terasa biasa bagi sebagian orang. Tapi bagi anak kelas 3 SD, itu adalah beban yang terlalu besar.

Di rumah, Aul tinggal bersama kakek dan neneknya yang sudah renta. Neneknya memiliki riwayat sakit paru-paru dan lambung. Ia sering sesak napas. Dulu sempat berobat, namun kini terhenti karena keterbatasan biaya.

Kakeknya mengalami rabun parah hingga tidak bisa melihat dengan jelas. Keduanya sudah tidak mampu lagi bekerja. Dan tanpa banyak mengeluh, Aul kecil mencoba membantu semampunya.
Ia tidak meminta mainan baru.
Tidak meminta hal yang aneh-aneh.
Ia hanya ingin neneknya bisa kembali berobat.
Ia ingin memiliki seragam dan perlengkapan sekolah yang layak.
Ia hanya berharap punya sedikit modal usaha di rumah, agar bisa berjualan tanpa terus berhutang.
Sederhana.
Tapi terasa begitu jauh untuk diraih sendirian.
Hari ini, kita bisa menjadi bagian dari perubahan hidup Aul.
Satu bantuan darimu mungkin terasa kecil.
Namun bagi Aul,
itu bisa berarti dagangan tanpa hutang.
Bisa berarti sekolah tanpa rasa cemas.
Bisa berarti napas nenek yang lebih lega.
Mari bantu Aul meringankan beban yang seharusnya tidak ia pikul sendirian. 🤍