
Di usia 13 tahun, seharusnya Andi masih sibuk belajar dan bermain bersama teman-teman seusianya.
Namun setiap pagi pukul 6, Andi sudah mulai berkeliling kampung menjajakan opak. Ia terus berjualan hingga sore, bahkan sampai malam jika dagangannya belum banyak laku.

Setiap opak yang terjual hanya memberinya keuntungan sekitar Rp1.500. Dari hasil jualan itulah Andi berusaha membantu memenuhi kebutuhan hidup bersama ibu dan kakeknya yang sudah renta.
Sejak kecil, Andi sudah kehilangan sosok ayah. Setelah ayahnya wafat, sang ibu mengalami gangguan kejiwaan dan kerap mengamuk. Kondisi tersebut membuat kehidupan Andi semakin berat.

Di tengah keadaan itu, Andi bahkan harus berhenti sekolah sejak kelas 5 SD karena terkendala biaya.
Bukan hanya pendidikan yang terhenti. Andi juga memiliki kendala besar dalam biaya pengobatan sang ibu.
Rumah yang mereka tempati pun bukan milik mereka. Sewaktu-waktu, mereka bisa saja diminta pergi dan kehilangan tempat tinggal.
Meski hidup dalam banyak keterbatasan, Andi masih menyimpan satu cita-cita sederhana yaitu menjadi pemain sepak bola.
Ia pernah dibully teman-temannya karena bermain bola menggunakan sandal, sementara dirinya juga harus berjualan untuk bertahan hidup.
Saat ini, yang sedang Andi butuhkan adalah:
Andi sudah berusaha bertahan dengan berjualan dari pagi hingga malam. Kini, sedikit bantuan dari kita bisa membantu Andi mendapatkan kembali haknya untuk sekolah, menjalani hidup yang lebih layak, dan mengejar cita-citanya.
Klik Donasi Sekarang untuk bantu ringankan perjuangan Andi.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik