
Anak-anak hidup di tengah hutan? Jauh dari hiruk pikuk kota? Emang ada?

Faktanya ya ada, bahkan harus menempuh jalanan curam dan melewati pemakaman hanya untuk sampai ke tempat yang kita sebut rumah. Inilah kenyataan pahit yang harus dijalani oleh anak-anak laki-laki di Panti Asuhan Yayasan Khairol Jaza setiap harinya. Dipimpin oleh sosok tangguh bernama Pak Yusril atau yang akrab disapa Abah, panti ini bukan sekadar bangunan, melainkan sebuah bekas padepokan tua yang kondisinya sangat memprihatinkan.
Di sana, atap bocor dan lantai yang lengket menjadi kawan tidur mereka. Kasur yang sudah lapuk dan sekat papan berlubang menjadi satu-satunya pembatas privasi di kamar yang lembab. Bahkan, untuk beribadah di mushola saja, mereka harus menelan kenyataan bahwa tempat itu sudah kumuh dan tidak layak.

Abah Yusril, yang berjuang sendirian dengan penghasilan hanya Rp600 ribu/bulan sebagai guru ngaji, selalu berusaha memberikan yang terbaik. Namun, keterbatasan ekonomi sering memaksa mereka untuk berhutang di warung, bahkan terkadang hanya bisa makan nasi dengan micin demi bisa menyambung hidup.
Melihat semangat anak-anak ini untuk tetap bersekolah dan beribadah di tengah segala kekurangan sungguh mengiris hati. Mereka tidak meminta banyak, hanya tempat tinggal yang layak dan perut yang kenyang agar bisa mengejar mimpi.

Mari kita ulurkan tangan untuk sedikit meringankan beban mereka. Klik 'Donasi Sekarang', bantuan Anda, sekecil apa pun, akan sangat berarti bagi kelangsungan hidup mereka dan harapan untuk memiliki kehidupan yang lebih manusiawi.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik