

Saat anak-anak lain beristirahat atau bermain, Alya memilih berjalan membawa dagangannya. Ia berjualan kecil-kecilan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan selepas mengaji pun, ia masih menyempatkan diri menawarkan jualannya kepada orang-orang sekitar.
Alya tinggal bersama dua kakaknya yang juga masih bersekolah. Sejak ibunya meninggal dunia dan sang ayah pergi tanpa pernah kembali, kehidupan mereka berubah drastis. Tidak ada lagi tempat bersandar selain satu sama lain.

Kini mereka bertiga tinggal di rumah peninggalan neneknya. Rumah sederhana yang menjadi satu-satunya tempat berteduh dan menyimpan harapan. Di tengah segala keterbatasan, Alya tetap berusaha tegar. Ia ingin terus sekolah, meski saat ini masih memiliki tunggakan biaya sekitar Rp500.000.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin tidak terlalu besar. Namun bagi Alya, itu adalah beban yang terasa berat.
Di balik senyumnya yang sederhana, Alya menyimpan banyak mimpi. Ia ingin memiliki sepeda agar bisa berangkat sekolah dan berjualan dengan lebih mudah. Ia ingin memiliki alat tulis dan seragam yang layak seperti teman-temannya. Dan lebih dari itu, ia bermimpi membuka warung kecil di rumahnya, agar tak perlu lagi berjualan jauh-jauh dan bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarganya dengan lebih stabil.

Alya tidak menyerah pada keadaan. Setiap hari ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Kita bisa menjadi bagian dari perjalanan harapannya. Membantu melunasi tunggakan sekolahnya, menghadirkan sepeda, perlengkapan sekolah, dan modal usaha kecil di rumahnya.
Karena setiap anak berhak atas pendidikan, kesempatan, dan masa depan yang lebih baik.
Mari bersama wujudkan harapan Alya.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik