Bel pulang sekolah buat Alif bukan selalu tanda waktunya bermain. Tas sekolahnya mungkin sudah disimpan, tapi langkahnya masih panjang. Setiap hari, Alif berjalan hingga 10 kilometer untuk menjajakan nangka sampai sore.

Alif baru berusia 11 tahun dan duduk di kelas 5 SD. Sejak ibunya, Rosidah, meninggal karena sakit jantung 11 bulan lalu, Alif mulai berjualan nangka dari kebun tetangganya. Ayahnya sudah tidak lagi mengurus Alif setelah menikah kembali. Sekarang, Alif tinggal bersama Nenek Ai yang berusia 66 tahun.
Satu nangka dijual Rp3.000. Dari sana, Alif hanya membawa pulang Rp1.000 karena Rp2.000 harus disetorkan. Nominalnya memang kecil, tapi Alif tetap menjalaninya setiap hari. Karena sekecil apa pun hasil jualannya, itu tetap bisa membantu isi dapur di rumah.
Nenek Ai dulu masih bekerja sebagai buruh tandur di sawah. Sekarang lututnya sering sakit, tubuhnya kebas, dan penglihatannya terganggu karena katarak. Saat tak ada yang bisa dikerjakan, terkadang ia hanya mengumpulkan sisa padi dari sawah setelah panen.

Di rumah, masih ada kebutuhan yang harus dipikirkan. Beras untuk makan, seragam dan sepatu untuk sekolah Alif, juga HP yang dibutuhkan untuk kegiatan belajarnya. Sementara Alif sendiri masih harus membagi waktunya antara menjadi anak sekolah dan membantu nenek yang membesarkannya.
Alif mungkin belum bisa mengubah keadaan keluarganya. Tapi kita bisa membantu supaya ia tetap punya kesempatan untuk sekolah tanpa harus terus memikirkan kebutuhan yang seharusnya bukan menjadi beban seorang anak.
Yuk, bantu Alif dan Nenek Ai.
Bantu penuhi kebutuhan makan dan sekolah Alif, agar langkah 10 kilometernya setiap hari bukan satu-satunya cara untuk membuat mereka bertahan. 🤍