
Di tengah musim kemarau, air yang bagi sebagian dari kita tinggal membuka keran, masih menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan berjam-jam oleh warga di pelosok Jawa Barat.
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Jawa Barat mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026, dan di beberapa wilayah kondisi kering dapat berlanjut hingga September. Kemarau tahun ini juga diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dari biasanya.
Bagi kampung-kampung yang belum memiliki sumber air memadai, kondisi ini bukan sekadar tentang cuaca.
Ini tentang bagaimana mereka bisa mendapatkan air untuk minum, memasak, mandi, dan bertahan setiap hari.
Kami menemukannya langsung di beberapa wilayah pelosok Jawa Barat.

Di Kampung Cisuren, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, sumber air yang biasa digunakan warga mengering ketika kemarau.
Sekitar 60 keluarga yang mayoritas bekerja sebagai buruh tani harus mencari sumber lain dengan medan yang sulit dijangkau.
Pencarian air bisa dimulai selepas Subuh, sekitar pukul lima pagi, dan berlangsung hingga malam. Dalam kondisi tertentu, warga bahkan masih mencari air sampai sekitar pukul sepuluh malam.
Namun perjuangan mereka belum selesai ketika air berhasil dibawa pulang.
Air yang didapat masih keruh dan tidak bisa langsung digunakan. Warga harus menyaring kemudian mengendapkannya selama sekitar tiga sampai empat malam hingga kotorannya berkurang.
Artinya, air yang dicari hari ini baru bisa digunakan beberapa hari kemudian.
Di sisi lain, mayoritas warga bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp30.000–Rp50.000 per hari. Semakin banyak waktu yang digunakan mencari air, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk mencari nafkah.

Kondisi berbeda kami temukan di Kampung Dongeng, Desa Sukabakti, Kecamatan Sodonghilir, Kabupaten Tasikmalaya.
Sekitar 150 kepala keluarga bergantung pada sumber air yang berjarak kurang lebih 2 kilometer dari permukiman. Sebagian besar warga merupakan lansia, termasuk banyak perempuan yang telah kehilangan suaminya.
Merekalah yang harus menempuh jalan perbukitan naik-turun untuk membawa air pulang.
Ironisnya, air dari sumber terdekat pun kondisinya keruh, berbau, berlumpur, dan semakin sulit didapat ketika kemarau.
Ada sumber air yang lebih jernih, tetapi jaraknya sekitar 9 kilometer dari kampung. Bagi warga lanjut usia, perjalanan sejauh itu tentu bukan pilihan yang mudah dilakukan setiap hari.
Karena tidak memiliki alternatif lain, air yang tersedia tetap digunakan untuk mandi, mencuci, memasak, hingga kebutuhan konsumsi. Warga pun mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan seperti gatal-gatal, sakit tenggorokan, dan diare.
Ketika kekeringan terjadi, distribusi air menggunakan tangki sangat berarti untuk membantu kebutuhan mendesak masyarakat.
Namun satu tangki air pada akhirnya akan habis.
Ketika persediaan habis, warga kembali berjalan menuju sumber yang sama. Tahun berikutnya, ketika kemarau datang kembali, persoalan yang sama pun berpotensi terulang.
Karena itu, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya air untuk hari ini, tetapi akses air yang bisa tetap mereka gunakan bertahun-tahun ke depan.
Melalui program ini, Penderma.id berikhtiar menghadirkan 100 titik akses air bersih bagi masyarakat di kampung-kampung pelosok Jawa Barat yang masih kesulitan mendapatkan air.
Setiap lokasi akan ditangani berdasarkan kondisi dan hasil survei teknis di lapangan. Bentuk bantuannya dapat meliputi:
1. Penyediaan sumber air
Pembuatan sumur bor, perlindungan mata air, maupun pemipaan dari sumber air yang memungkinkan.
2. Penampungan dan penyaluran air
Penyediaan tandon dan titik pengambilan air yang lebih dekat dengan permukiman agar warga tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh.
3. Sistem penyaringan air
Penyediaan filtrasi sesuai kebutuhan dan kondisi sumber air agar kualitas air yang digunakan masyarakat menjadi lebih baik.
4. Pengelolaan bersama warga
Mendorong masyarakat ikut menjaga dan merawat fasilitas agar akses air dapat terus digunakan dalam jangka panjang.
Puncak musim kemarau sedang berlangsung.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa terjadi pada Agustus, sementara beberapa wilayah masih mengalami kondisi kering hingga September 2026.
Warga masih menghabiskan berjam-jam hanya untuk mencari air.
Di Cisuren, pencarian air bisa berlangsung sejak selepas Subuh hingga malam.
Yang mencari air bahkan para lansia.
Di Kampung Dongeng, warga lanjut usia harus menempuh medan perbukitan hingga beberapa kilometer untuk mendapatkan air.
Dan air yang mereka dapat pun belum tentu layak digunakan.
Ada yang harus diendapkan hingga beberapa malam, ada pula yang tetap digunakan meski keruh dan berbau karena tidak tersedia pilihan lain.
Bayangkan jika sumber air tersedia lebih dekat.
Warga Cisuren tidak perlu lagi menghabiskan sebagian harinya mencari air.
Para lansia di Kampung Dongeng tidak perlu lagi berjalan berkilo-kilometer sambil membawa beban.
Anak-anak bisa mendapatkan air yang lebih layak. Orang tua bisa kembali bekerja. Dan ketika musim kemarau datang kembali, warga memiliki sumber air yang bisa mereka andalkan.
Selama ini mereka sudah melakukan segala yang mereka mampu: berjalan, mengangkut, menyaring, mengendapkan, lalu mengulanginya kembali ketika persediaan habis.
Kini, mari bantu perjuangan mereka dengan menghadirkan sesuatu yang bisa menetap lebih lama.
Wujudkan 100 titik akses air bersih untuk masyarakat pelosok Jawa Barat. Dari satu titik air, puluhan keluarga dapat merasakan manfaatnya selama bertahun-tahun.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik