

Lovely Ayasya Prinsinsa, 10 tahun, sekilas terlihat seperti anak-anak lain seusianya. Ia bersekolah, tersenyum, dan menyapa orang dengan sopan. Namun di balik senyum kecil itu, Lovely menjalani hidup yang jauh dari kata ringan—bahkan untuk orang dewasa sekalipun.
Setiap hari sepulang sekolah, Lovely menyiapkan gorengan sederhana. Menjelang sore, ia berjalan dari kampung ke kampung, menawarkan dagangannya hingga malam tiba. Saat anak-anak lain belajar atau bermain bersama keluarga, Lovely memilih bertahan di jalan, demi satu tujuan: membantu memenuhi kebutuhan rumah dan membeli obat untuk neneknya.
Lovely hanya tinggal bersama sang nenek. Ayahnya telah meninggal dunia, sementara ibunya pergi bekerja dan tak pernah kembali. Bagi Lovely, nenek bukan sekadar keluarga—ia adalah satu-satunya tempat pulang, satu-satunya alasan ia terus berjuang.
Namun kondisi nenek semakin menurun. Tekanan darah tinggi sering membuatnya pusing dan terjatuh, penyakit lambung kerap kambuh, dan rematik membatasi geraknya. Di tengah kondisi itu, Lovely mencoba tegar. Pernah suatu malam, ia menggenggam tangan neneknya dan berkata lirih,
“Cepat sembuh ya, Mbah… aku nggak punya siapa-siapa lagi kalau Mbah nggak ada.”
Kalimat sederhana dari anak berusia 10 tahun. Tapi maknanya terlalu berat untuk diabaikan.
Lovely bukan anak yang banyak mengeluh. Ia terbiasa menahan lelah dan takut sendirian. Ketika matanya sembab, ia hanya tersenyum kecil dan berkata,
“Aku kuat kok… yang penting Mbah sembuh.”
Seorang anak yang justru menenangkan orang dewasa, sambil memikul beban hidup yang seharusnya belum ia tanggung.

Meski hidupnya keras, Lovely tetap punya mimpi. Mimpi yang wajar bagi anak seusianya. Ia ingin punya sepeda agar tak harus berjalan jauh saat berjualan. Ia ingin seragam, sepatu, dan tas sekolah yang layak. Dan jika memungkinkan, ia berharap ada sedikit modal agar bisa berjualan dari rumah supaya ia tetap bisa membantu nenek tanpa harus mengorbankan sekolahnya.
Selama empat tahun, Lovely menjalani semua ini sendiri. Empat tahun di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan rasa aman. Namun ia tetap bertahan, tetap melangkah, dan tetap berharap.
Hari ini, kita punya kesempatan untuk meringankan langkahnya.
Bukan sekadar membantu secara materi, tapi memberi Lovely ruang untuk kembali menjadi anak-anak. Membantu pengobatan neneknya. Menjaga pendidikannya. Dan memberi harapan bahwa ia tidak sendirian menghadapi hidup.
Lovely bukan sekadar anak penjual gorengan.
Ia adalah gambaran tentang keteguhan, cinta, dan tanggung jawab yang lahir terlalu dini.
Mari temani langkahnya.
Karena perjuangan anak sekuat Lovely seharusnya tidak dijalani sendirian.

![]()
Belum ada Fundraiser