
Seharusnya saat ini Latip duduk di bangku sekolah. Namun kenyataannya berbeda. Sejak kecil, Latip harus meninggalkan masa sekolahnya karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat sulit. Saat anak-anak lain belajar di kelas, Latip justru harus berjalan berkeliling menjual cemilan agar keluarganya tetap bisa makan.

Latip tinggal di daerah Mekar Mulya, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung. Ia hidup bersama ibu dan adik perempuannya yang masih berusia 10 tahun dan duduk di kelas 4 SD. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana berbentuk panggung dengan biaya sewa sekitar Rp300.000 setiap bulannya. Sejak Latip berusia dua tahun, ayahnya sudah tidak lagi bersama mereka karena perceraian.

Sejak usia 6 tahun, Latip sudah mulai berjualan berbagai cemilan seperti basreng, makaroni kering, mie kering, hingga keripik ubi. Setiap hari ia mulai berjualan dari sekitar pukul 8 pagi hingga sore hari, bahkan terkadang sampai malam. Dalam sehari, penghasilan yang Latip dapatkan tidak menentu, biasanya hanya sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000 saja. Dari setiap bungkus cemilan yang terjual, keuntungan yang ia dapatkan hanya sekitar Rp1.000.
Penghasilan tersebut tentu sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dalam sebulan, kebutuhan keluarga ini diperkirakan mencapai sekitar Rp900.000. Sementara itu, ibu Latip juga sering mengalami sakit lambung yang membuatnya tidak selalu bisa bekerja secara maksimal.
Selain harus memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, keluarga ini juga masih memiliki utang sekitar Rp5.000.000 yang digunakan untuk modal usaha sekaligus memenuhi kebutuhan hidup. Bagi Latip, melunasi utang tersebut menjadi salah satu harapan agar keluarganya bisa menjalani hidup dengan lebih tenang.
Di balik semua perjuangannya, Latip sebenarnya masih memiliki mimpi seperti anak-anak lainnya. Ia sangat menyukai sepak bola dan bercita-cita menjadi pemain bola. Latip juga ingin memiliki sepatu futsal dan jersey Timnas Indonesia. Sementara itu, adiknya Dea juga memiliki harapan sederhana: ia ingin memiliki seragam sekolah yang layak dan bergabung dengan kegiatan Pramuka di sekolahnya, namun hingga kini belum bisa karena keterbatasan biaya.

Melalui bantuan dan kepedulian kita bersama, harapan kecil keluarga ini bisa menjadi kenyataan. Bantuan yang diberikan dapat membantu melunasi utang mereka, menyediakan kebutuhan sekolah untuk Dea, menambah modal usaha Latip, serta membantu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Mari kita bantu Latip dan keluarganya agar mereka bisa menjalani hidup dengan lebih baik dan tetap memiliki harapan untuk masa depan. 🤍


![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik