
Di usia yang seharusnya lebih banyak digunakan untuk beristirahat, Abah Yaman masih harus bekerja keras setiap hari.
Usianya kini 70 tahun. Namun sejak pagi, Abah sudah bersiap mendorong gerobaknya yang dipenuhi 20 jerigen air untuk dijual sekaligus diantarkan ke rumah-rumah warga. Beratnya pun tak main-main. Abah mengatakan, satu gerobak penuh jerigen air bisa mencapai berat sekitar 4 kuintal.

Sudah sekitar 30 tahun Abah menjalani pekerjaan ini. Setiap jerigen yang berhasil diantar memberinya upah sekitar Rp3.000-Rp3.500, bahkan terkadang hanya dibayar seikhlasnya. Dari pekerjaan itulah Abah berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama istrinya, Nek Rosita, yang berusia 65 tahun, serta seorang cucunya.

Abah berjualan hingga magrib, berkeliling dari Margahayu, Bendungan, Harmoni PCP, hingga perkampungan di sekitarnya.
Namun ada satu hal yang selalu membuat Abah khawatir. Bagaimana kalau sumber air tidak tersedia?
Sebab bagi Abah, ketika air tidak ada, berarti tidak ada pula penghasilan yang bisa dibawa pulang.
Perjalanan mencari nafkah juga bukan tanpa risiko. Abah pernah terserempet mobil hingga roda gerobaknya terlepas. Kini, kakinya pun kerap terasa pegal karena harus berjalan jauh setiap hari.
Meski begitu, Abah tetap berusaha bertahan. Ia ingin kebutuhan rumah tetap terpenuhi, beras tetap terbeli, dan kontrakan tetap terbayar. Lebih dari itu, Abah juga ingin bisa membantu biaya pengobatan istrinya yang sedang sakit asam urat.
Abah tidak sedang mengejar kemewahan. Ia hanya ingin tetap bisa bekerja, makan bersama keluarga, dan memastikan orang-orang yang ia sayangi tetap tercukupi.
Ulurkan bantuan terbaik yang kita bisa, agar perjuangan Abah mencari nafkah tidak harus selalu dilakukan seorang diri.
Sedikit bantuan dari kita, bisa menjadi tenaga bagi Abah untuk terus bertahan dan memenuhi kebutuhan keluarganya.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik