
Di usia yang telah menginjak 84 tahun, ketika banyak orang seusianya memilih beristirahat, Abah Wachyudin justru masih mengawali harinya sejak pagi untuk berjualan ager keliling. Selama hampir 30 tahun, Abah berjalan dari satu sekolah ke sekolah lainnya, berharap dagangannya habis terjual agar bisa membawa pulang sedikit uang untuk bertahan hidup.
Setiap bungkus ager yang dijual hanya seharga Rp1.000. Keuntungan yang diperoleh pun sangat kecil. Dengan modal sekitar Rp100.000, Abah hanya bisa membawa pulang keuntungan sekitar Rp30.000, itu pun jika seluruh dagangannya habis terjual. Tak jarang ia pulang dengan dagangan yang masih tersisa dan penghasilan yang jauh dari cukup.
Di balik senyumnya, Abah juga menyimpan perjuanganyang tidak mudah. Saat masih bekerja di sebuah pabrik peleburan besi, ia terpapar zat toksik yang kemudian menyebabkan tic disorder, gangguan saraf yang membuat tubuhnya terus bergerak dan bergetar tanpa bisa dikendalikan. Kondisi ini menjadi teman sehari-harinya, namun tak pernah menghentikan langkah Abah untuk tetap mencari nafkah. 
Dua belas tahun lalu, Abah juga harus merelakan kepergian sang istri untuk selamanya. Sejak saat itu, ia menjalani hari-harinya dengan lebih banyak kesendirian. Meski usia semakin renta dan kondisi fisiknya tak lagi kuat, Abah memilih tetap berjualan daripada menyerah pada keadaan.
Harapan Abah sebenarnya sangat sederhana. Ia hanya ingin memiliki tambahan modal usaha agar bisa terus berjualan dan memperoleh penghasilan yang lebih layak. Bagi kita mungkin itu hal yang kecil, tetapi bagi Abah, bantuan tersebut bisa menjadi harapan untuk tetap bertahan menjalani hari-harinya dengan lebih tenang.
Mari bersama-sama menjadi bagian dari harapan Abah. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan, dapat membantu meringankan langkah seorang lansia yang hingga hari ini masih berjuang mencari nafkah di tengah keterbatasan usia dan kondisi kesehatannya
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik