

Di usia 61 tahun, saat banyak orang mulai beristirahat, Abah Tarjo justru masih berjibaku dengan tambak demi menyambung hidup dan merawat istrinya yang sakit.

Setiap pagi sebelum matahari meninggi, Abah sudah berangkat ke tambak, menanti hasil yang tak pernah pasti. Ia baru pulang menjelang sore dengan membawa ikan seadanya. Kadang beruntung mendapat satu kilo ikan atau belut yang hanya laku sekitar 20 ribu/kilo, namun tak jarang ia pulang dengan hasil yang sangat sedikit karena cuaca, kondisi air, dan panen yang tak menentu.
Dari penghasilan yang terbatas itulah Abah mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti beras, lauk, dan keperluan rumah tangga. Namun bukan hanya itu yang ia pikirkan. Selama dua tahun terakhir, istrinya hanya bisa terbaring lemah dan membutuhkan perawatan serta obat rutin. Sebagian besar penghasilan Abah habis untuk biaya pengobatan, sementara kebutuhan terus berjalan dan kedua anaknya kini telah berkeluarga serta hidup mandiri. Tambak sederhana itu menjadi satu-satunya sumber harapan dan kehidupan bagi Abah Tarjo.

Di balik lelahnya hari-hari Abah, tersimpan satu doa sederhana: ia ingin memberikan pengobatan terbaik agar sang istri bisa kembali sehat. Mari kita ringankan perjuangan Abah Tarjo. Uluran tangan kita hari ini bisa menjadi harapan baru bagi kesembuhan istrinya dan meringankan beban yang selama ini ia pikul seorang diri.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik