
Kalau bertemu Abah Otong di jalan, mungkin yang terlihat hanya seorang kakek penjual celengan keramik.
Tapi di balik langkah pelannya, ada tubuh renta yang sudah terlalu lama dipaksa bertahan. Ada tangan dan kaki yang sejak lahir tidak sempurna. Ada suara yang sulit keluar jelas saat ia mencoba berbicara. Dan ada perjuangan panjang yang mungkin tidak banyak orang sanggup jalani di usia senjanya.
Sejak puluhan tahun lalu, Abah bertahan hidup dengan berjalan kaki menjajakan celengan keramik. Dari subuh sampai sore, ia bisa menempuh 10 sampai 30 kilometer hanya untuk mencari pembeli.
Satu celengan dijual Rp25.000. Kadang laku 2 sampai 4 buah. Kadang tidak laku sama sekali.
Rata-rata penghasilannya hanya sekitar Rp20.000 sehari. Cukup untuk makan hari itu, lalu esoknya Abah harus kembali berjalan dari nol lagi.
Padahal tubuhnya sudah tidak sekuat dulu. Pinggang hingga kaki kanannya sering terasa sakit. Namun Abah belum pernah memeriksakan diri ke dokter karena tidak punya biaya. Di jalan, ia juga sering mengalami hal yang menyakitkan: tersenggol kendaraan, dagangannya jatuh dan pecah, lalu ia harus pulang dengan tangan kosong.
Dulu Abah pernah punya keluarga. Pernah punya rumah. Pernah merasakan hidup yang lebih utuh.
Namun kini semuanya berubah. Istrinya telah tiada. Satu anaknya meninggal dunia. Tiga anak lainnya hidup terpisah. Yang tersisa untuk Abah hari ini hanyalah jalan panjang, dagangan kecil, dan tubuh yang terus ia paksa kuat demi bisa makan.
Abah tidak meminta hidup mewah. Ia hanya ingin bisa bertahan tanpa harus berjalan sejauh itu setiap hari.
Bantuan yang terkumpul akan digunakan untuk biaya pengobatan Abah dan modal usaha kecil yang lebih ringan, agar ia tidak lagi harus menghancurkan tubuhnya sendiri di jalan hanya demi makan hari itu.
Mari bantu Abah Otong.
Sedekah terbaikmu bisa menjadi jalan agar langkah tuanya tidak terus dipaksa menahan sakit.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik