
Jalan pincang dari Garut ke Bandung untuk jualan remot keliling, itu yang Abah Nanan lakukan setiap hari demi menjaga dapur tetap mengepul dan anaknya tetap bisa sekolah.

Perjuangan Abah bermula dari kecelakaan kerja di awal tahun 2000-an saat beliau masih menjadi buruh bangunan. Insiden itu membuat kakinya mengalami pincang permanen (antalgic gait). Sejak saat itu, setiap langkah terasa berat. Kakinya sering keram dan nyeri hebat. Di jalan, Abah pernah menjadi korban tabrak lari, bahkan kehilangan modal karena dicopet. Namun semua itu tak menghentikan tekadnya untuk terus berjualan.
Dari menjual remot, penghasilan Abah rata-rata hanya Rp15.000 per hari. Bahkan tak jarang dagangannya tak laku sama sekali. Sementara kebutuhan harian, termasuk ongkos dan bekal sekolah anak bungsunya yang masih SMP, sekitar Rp20.000 per hari. Artinya, hampir setiap hari Abah harus menghadapi kondisi defisit. Jika kakinya kambuh dan tak mampu berjalan, kebutuhan makan dan biaya pendidikan anaknya terancam.
Meski hidup dalam keterbatasan, Abah tetap menjaga harga diri. Ia memilih berjualan daripada mengemis. Dengan senyum yang ia paksakan di balik rasa sakit, Abah selalu berkata pada anaknya, “Selama kamu sekolah, Abah masih kuat jalan.”

Kini, kita bisa menjadi alasan Abah tak lagi harus memaksakan langkahnya sejauh itu. Bantuan kita dapat meringankan beban fisiknya, menstabilkan ekonomi keluarganya, dan memastikan pendidikan sang anak tetap berjalan.

Jangan biarkan langkah Abah terhenti karena keterbatasan. Mari bersama menjaga martabatnya dan menghadirkan harapan baru di masa senjanya. Ulurkan tangan Anda hari ini.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik