
Bayangkan, di usia senja 70 tahun, harus menahan rasa sakit stroke yang sudah 10 tahun diidap, hanya untuk bisa membawa pulang sedikit uang. Inilah yang dialami oleh Abah Maman, penjual poster keliling di Lembang. Setiap hari, Abah Maman harus berjuang naik-turun angkot dengan kondisi tangan kanan yang mulai susah digerakkan dan kaki yang sudah sulit melangkah jauh. Bukan tanpa alasan Abah memaksakan diri. Di rumah, sang istri, Ibu Maman, terbaring lemah dengan penyakit jantung yang membuatnya tak bisa bekerja berat.

Mereka hanya tinggal berdua. Anak-anak mereka sudah berkeluarga dan sedang berjuang dengan hidupnya masing-masing, sehingga Abah dan Ibu harus bertahan sendiri. Perjuangan Sunyi di Usia Senja. Penghasilan Abah Maman dari menjual poster-poster bergambar hewan dan abjad untuk anak-anak, hanya sekitar Rp20.000 hingga Rp50.000 per hari, itu pun sebelum dipotong modal
Bahkan untuk pergi berjualan, Abah Maman harus mengeluarkan Rp15.000 hingga Rp20.000 hanya untuk ongkos angkot pulang-pergi. Artinya, sisa uang yang bisa dibawa pulang seringkali hanya cukup untuk makan seadanya. Yang paling menyayat hati, Abah Maman pernah mengalami hari terburuk: pulang ke rumah tanpa membawa uang sepeser pun karena tidak ada satu pun posternya yang laku. Bayangkan kepedihan seorang suami yang sudah berjuang mati-matian menahan sakit, namun harus melihat istrinya di rumah tanpa bisa memenuhi kebutuhan harian.

Abah Maman sudah berjuang maksimal. Kini saatnya kita yang turun tangan. Abah dan Ibu Maman sangat membutuhkan bantuan, terutama untuk:

Ayo, Jangan Biarkan Abah Pulang dengan Tangan Kosong Lagi!
Mari kita ringankan beban Abah Maman, pahlawan sejati di usia senja. Setiap donasi dari Anda adalah ongkos angkot yang meringankan langkah kakinya, adalah obat yang melegakan napasnya, dan adalah secercah harapan bagi Abah Maman dan Ibu Maman.