
“Abah mah kalau nggak ada uang, apa aja weh. Nasi pakai garam atau kecap juga cukup, yang penting mah cucu Abah.”
Begitulah cara Abah Kardi (74) bertahan hidup. Di usianya yang sudah senja, Abah rela makan seadanya asalkan kebutuhan cucunya tetap terpenuhi.
Sejak istrinya berpulang, tak ada pasangan yang bisa diajak berbagi tanggung jawab. Abah harus menjadi satu-satunya pencari nafkah sekaligus merawat cucunya seorang diri.
Padahal, kondisi fisiknya sudah tak lagi prima. Namun, Abah tetap berusaha mencari uang setiap hari agar cucunya bisa makan dan kelak bersekolah.
Kaki Patah Tak Membuat Abah Berhenti Berjualan
Enam tahun lalu, Abah menjadi korban tabrak lari sebuah angkot yang menyebabkan kaki kanannya patah. Karena tidak mendapat pengobatan maksimal, kakinya tak pulih seperti semula.
Untuk bisa berjalan, Abah membuat alat bantu sendiri dari papan kayu. Dengan alat sederhana itu, ia tetap berkeliling menjajakan sayuran dari satu tempat ke tempat lain.
Setiap hari, Abah mulai beraktivitas sejak pukul 03.30 subuh untuk mengambil sayuran dari bandar. Setelah itu, ia berjalan berkeliling hingga sekitar pukul 16.00 sore.
Dalam sehari, jarak yang ditempuhnya bisa mencapai 40 kilometer.
Bayangkan, dengan kaki yang tak lagi normal, Abah harus menempuh perjalanan sejauh itu demi membawa pulang sedikit uang untuk kebutuhan mereka berdua.
Namun, panjangnya perjalanan tak menjamin penghasilan yang cukup. Abah hanya mendapat keuntungan sekitar Rp500 dari setiap barang yang terjual. Jika dagangannya laku, penghasilan sehari hanya sekitar Rp5.000-Rp15.000. Bahkan, ketika sayuran tidak terjual, Abah bisa kehilangan modal.
Risiko yang dihadapinya pun besar. Abah pernah terserempet kendaraan, terguling akibat lubang di jalan, hingga kehilangan uang karena ditipu orang.
Meski begitu, Abah tetap berusaha mencari nafkah. Ia tak ingin meminta-minta, selama dirinya masih bisa berusaha untuk sang cucu.
Demi Cucu, Abah Rela Menahan Lapar
Di tengah penghasilan yang tak menentu, Abah harus membagi uang yang didapat untuk kebutuhan makan sehari-hari dan keperluan cucunya.
Tak jarang, Abah memilih makan nasi dengan garam atau kecap saja. Baginya, makan sederhana bukan masalah selama kebutuhan cucunya bisa lebih dulu dipenuhi.
Namun, ada kekhawatiran lain yang kini harus Abah pikirkan. Sang cucu akan segera masuk sekolah dan membutuhkan biaya administrasi serta perlengkapan sekolah.
Sementara itu, penghasilan Abah yang hanya belasan ribu rupiah sehari begitu sulit diandalkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Di rumah, kondisi bangunan yang mereka tempati juga memprihatinkan dan membutuhkan perbaikan agar lebih layak dihuni.
Abah ingin melihat cucunya tumbuh sehat, mendapatkan pendidikan, dan memiliki masa depan yang lebih baik. Sayangnya, dengan kondisi fisik yang terbatas dan penghasilan yang sangat kecil, mewujudkan harapan itu bukan perkara mudah.
Abah Kardi sudah berusaha semampunya untuk bertahan dan merawat sang cucu. Kini, ia membutuhkan uluran tangan agar tak harus terus menghadapi semuanya seorang diri.
Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk membantu:
Modal usaha dan perlengkapan dagang, agar Abah bisa melanjutkan usahanya dengan lebih layak.
- Renovasi rumah, agar Abah dan cucunya memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman.
- Biaya pendidikan cucu, termasuk kebutuhan masuk sekolah dan perlengkapan belajar.
- Kebutuhan makan sehari-hari, agar Abah bisa memenuhi kebutuhan makan yang lebih layak.
Jangan biarkan keterbatasan ekonomi membuat harapan itu semakin sulit terwujud. Mari, bantu Abah Kardi melanjutkan usahanya, memperbaiki tempat tinggalnya, dan menyekolahkan cucu tercinta.
Klik Donasi Sekarang. Sekecil apa pun bantuanmu, sangat berarti bagi Abah dan cucunya.

![]()
Belum ada Fundraiser