
Tapi setiap hari, Abah masih duduk diam di depan Rumah Sakit Santo Yusup, menjajakan cincau yang ia buat sendiri sejak pagi.
Dulu, Abah berjualan keliling Bandung. Tapi kini kakinya tak lagi sekuat dulu. Sejak istrinya wafat setahun lalu, Abah tinggal sendirian di sebuah kontrakan kecil yang harus ia bayar Rp350.000 per bulan. Usia senjanya diisi dengan keheningan, dan gerobak cincau yang menjadi teman setiap hari.
Dari dagangan yang ia jajakan sejak tahun 1950 itu, Abah hanya mendapat penghasilan bersih sekitar Rp30.000 per hari. Itu pun jika dagangannya laku. Dengan modal Rp150.000, kadang dagangannya tidak habis, dan untuk kebutuhan makan pun Abah harus bergantung pada orang-orang yang iba padanya.
Abah tak berjualan demi dirinya sendiri. Ia masih memikirkan biaya sekolah cucu dan cicitnya, yang kini sudah duduk di bangku SD dan SMP. Anaknya yang bekerja sebagai buruh harian di Tangerang tak bisa selalu membantu. Maka meski tubuhnya lemah, Abah tetap bertahan, agar cucunya bisa sekolah dan cicitnya punya harapan.
“Kalau ada rezeki,” ucap Abah lirih, “ingin saya pakai untuk bayar kontrakan, modal jualan, dan sedikit buat bantu sekolah cucu-cicit.”
Di usia 94 tahun, Abah bukan hanya sedang bertahan hidup—ia sedang menjadi penjaga harapan kecil anak-anak di keluarganya.|
Hari ini, kita bisa bantu Abah menjaga harapan itu.
Bantu agar ia tak lagi bergantung pada belas kasihan.
Bantu agar cucu dan cicitnya tetap bisa sekolah,
dan Abah bisa menikmati masa tuanya dengan lebih tenang dan layak.
Klik donasi sekarang. Sekecil apa pun, sangat berarti untuk Abah Demo.
![]()
Belum ada Fundraiser