
Di usia 70 tahun, seharusnya Abah Dayat menikmati hari tua dengan tenang. Namun, takdir berkata lain. Sejak 4 tahun lalu, setelah sang istri tercinta meninggal dunia, ia harus berjuang sendirian untuk bertahan hidup.

Dengan kondisi fisik yang terbatas, ia memiliki kelainan pada kaki sejak kecil Abah Dayat tak pernah menyerah. Setiap hari, ia menempuh perjalanan hingga ±15 km dari Desa Sukamukti ke Pasar Ciparay, mendorong gerobak berisi harum manis dagangannya.
Perjuangan ini bukan tanpa air mata. Jarak yang jauh dan kondisi kaki yang rapuh membuatnya sering jatuh dan bahkan pernah terserempet mobil. Namun, rasa sakit fisik tidak sebanding dengan rasa sakit di hati saat dagangannya sepi pembeli. Seringkali, ia harus menahan lapar dan berpuasa demi menyambung hidup.

Kisah sedihnya semakin dalam. Tempat tinggalnya jauh dari kata layak. Tanpa listrik, rawan kecelakaan, dan butuh perbaikan segera. Ia juga pernah kehilangan modal usaha sebesar Rp4.000.000, pukulan telak yang mengancam semangatnya.
Namun, di tengah segala keterbatasan, Abah Dayat tetap memegang teguh prinsip untuk mandiri dan tidak merepotkan orang lain. Harapan terbesarnya saat ini sangat sederhana: tambahan modal usaha, pemasangan listrik, dan rumah yang layak agar ia bisa melalui masa tua dengan tenang dan sehat.

Mari ringankan beban Abah Dayat. Setiap dukungan Anda adalah harapan agar kakek pejuang ini tidak lagi harus menahan lapar dan bisa memiliki tempat berlindung yang aman di sisa usianya.

![]()
Belum ada Fundraiser