

Siapa bilang usia 75 tahun berarti perjuangan mencari nafkah harus berhenti? Bagi Abah Wahidin, hidup belum mengizinkannya untuk sekadar duduk menikmati masa tua.

Setiap pagi, Abah tetap melangkahkan kaki meski kaki kanannya pincang akibat stroke berat yang dideritanya delapan tahun lalu. Dengan kondisi yang tak lagi sekuat dulu, ia hanya mampu berkeliling menjajakan tahu bulat. Dagangan yang dibawanya pun tak banyak, sebab tubuhnya sudah tak sanggup mengangkat beban berat. Tak jarang, setelah seharian berkeliling, penghasilannya hanya sekitar Rp20 ribu.

Di rumah kontrakan sederhana kawasan Paniisan, Abah menyimpan kekhawatiran yang jauh lebih besar dari rasa lelahnya. Ia masih harus memikirkan anak bungsunya yang bersekolah dan anak ketiganya yang sedang berjuang menyelesaikan kuliah. Setiap rupiah yang didapat harus dibagi antara kebutuhan makan, biaya sekolah, dan pengobatan stroke yang terus menguras tenaganya.
Ujian Abah bahkan semakin berat ketika ia pernah menjadi korban tabrak lari. Kaki kanannya mengalami luka parah hingga membuatnya tak bisa berjualan selama dua hari. Saat itu, bukan hanya rasa sakit yang harus ditahan, tetapi juga kecemasan karena tak ada penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Di balik senyum lelahnya, Abah Wahidin adalah seorang ayah yang terus memilih bertahan. Di usia yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat, ia masih rela berjalan tertatih demi memastikan keluarganya tetap bisa makan dan anak-anaknya terus mengejar pendidikan.
Kini, kita bisa ikut meringankan langkah Abah. Sedikit bantuan dari kita bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarganya, mendukung pendidikan anak-anaknya, sekaligus membuka jalan bagi Abah untuk mendapatkan pengobatan yang layak.
Mari sisihkan sebagian rezeki untuk Abah Wahidin. Karena bagi keluarga yang sedang berjuang, bantuan kecil dari kita bisa menjadi harapan besar untuk kembali bertahan.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik