
Abah Ato sudah berusia 84 tahun, tapi setiap hari masih harus menempuh jarak sekitar 6 kilometer untuk bisa makan dan bertahan hidup. Pukul 07.00 pagi, Abah mulai berjalan dari kampung ke kampung sambil membawa pepaya dan cabai. Pepaya itu ia jual seharga Rp3.000. Jumlah kecil yang mungkin tidak berarti bagi banyak orang, tapi bagi Abah, itulah harapan untuk bisa hidup satu hari lagi.
Abah mulai berjualan sejak 2020, sudah 5 tahun ia jalani rutinitas ini. Keuntungan yang ia dapat pun sering kali hanya Rp3.000–Rp12.000 per hari.
Padahal dulu ia sempat bekerja sebagai penjaga sekolah, sebelum sekolah itu terbakar dan Abah kehilangan pekerjaannya. Hidupnya berubah begitu cepat. Istrinya kemudian berpulang, sementara anak-anaknya merantau dan tak pernah kembali hingga sekarang. Kini Abah tinggal seorang diri di bawah sutet, tanpa keluarga yang mendampingi, tanpa ada yang merawat, dan tanpa penghasilan yang pasti.
Di usianya saat ini, Abah mengidap rematik, punggung linu, dan pendengaran yang hampir tidak lagi normal. Tapi setiap pagi, ia tetap memaksakan diri melangkah jauh sambil menahan rasa sakitkarena jika ia berhenti, ia tidak punya apa pun untuk dimakan.
Yang Abah inginkan sebenarnya sederhana. Ia hanya berharap punya sedikit modal untuk bisa berjualan apa pun dari rumah, agar tidak perlu lagi berjalan jauh setiap hari. Ia juga ingin mendapatkan perawatan medis supaya tubuhnya tidak terus menahan sakit di usia senja.
Abah Ato sudah terlalu lama berjuang sendirian. Di usianya yang sudah 84 tahun, seharusnya ia bisa hidup lebih tenang, bukan terus berkeliling kampung dengan tubuh yang sudah rapuh. Hari ini, kita bisa menjadi bagian dari kekuatannya. Kita bisa bantu Abah mendapatkan modal usaha, kebutuhan harian, dan biaya pengobatan agar ia tidak terus menanggung semuanya seorang diri.
Mari kita rangkul Abah Ato. Bantu Abah merasakan hidup yang lebih layak dan lebih hangat di sisa usianya. Tidak ada perjuangan yang seharusnya dijalani sendirian di usia setua ini.
![]()
Belum ada Fundraiser