

Di usia senja yang seharusnya menjadi masa istirahat, Abah Atang (77 tahun) masih berjuang sendirian. Sejak tahun 80-an, setiap subuh, beliau memulai perjalanan lintas wilayah yang melelahkan: dari Rancaekek ke Bandung, menaiki kereta, menyambung angkot, demi menjajakan telur asin keliling.
Perjuangan harian Abah Atang bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga tentang bertahan. Dengan pendapatan bersih rata-rata Rp73.000 per hari—yang bisa merosot drastis hingga Rp3.600 jika hanya 4 butir telur terjual—beliau harus mencukupi makan (Rp20-30 ribu) dan biaya transportasi PP Rancaekek-Bandung (±Rp30 ribu). Sisa pendapatan tak sebanding dengan risiko yang beliau hadapi.

Meskipun pernah mengalami kecelakaan tertabrak motor, Abah memilih untuk bangkit dan kembali berdagang. Beliau berpegangan pada prinsip kemandirian, tidak ingin membebani tiga anaknya yang kini tinggal terpisah dan memiliki tanggungannya masing-masing.
Abah Atang telah melakukan semua yang ia bisa untuk bertahan, tetapi kini beliau membutuhkan uluran tangan yang tak mampu ia raih sendiri. Kondisi tempat tinggalnya—bekas warisan almarhumah istri yang sangat minim fasilitas, hanya ada tempat tidur dan mejikom—menjadi cerminan kesederhanaan hidupnya.
Sejak tahun 80-an, beliau telah menjadi pejuang sunyi di jalanan, namun kini, beliau menghadapi ancaman serius: degenerasi makula dan katarak di kedua mata yang divonis berpotensi menyebabkan kebutaan permanen (Urgensi Level 3) jika tidak segera ditangani

Tanpa penanganan medis, risiko Abah Atang kehilangan satu-satunya sumber penghasilan dan bergantung sepenuhnya pada orang lain sangatlah besar. Mari kita pastikan perjuangan Abah Atang tidak berakhir dalam kegelapan.
Sedikit bantuan kita hari ini adalah upaya preventif untuk menjaga martabat dan kemandirian seorang pejuang di usia senja.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik