
Di usia senja 78 tahun, seharusnya Abah Amir menikmati masa istirahat dan berkumpul dengan keluarga. Namun, kenyataan pahit berkata lain. Sejak 9 bulan lalu, Abah Amir didiagnosis mengidap penyakit tulang yang membuat kakinya tidak bisa lurus dan tidak mampu berjalan. Untuk beraktivitas, termasuk berangkat dan pulang berjualan, ia harus meminta tolong diangkat oleh orang lain, bahkan oleh tukang becak.
Meskipun dalam kondisi lumpuh dan sebatang kara, Abah Amir menolak menyerah. Setiap hari, dari jam 3 sore hingga jam 11 malam, ia memaksakan diri berjualan lidi di Saparua. Ia berbelanja, memasak, hingga berangkat berjualan semuanya ia lakukan sendiri, tanpa bantuan adiknya yang tinggal serumah dengannya.
Abah Amir juga memiliki kisah memilukan, ia pernah dihipnotis hingga semua modal dagangannya ludes, pernah diusir dari kontrakan karena tidak mampu membayar sewa, dan bahkan saat hujan turun, ia hanya bisa berdiam diri kehujanan di tempat jualannya karena tidak bisa bergerak hingga ada orang lain yang berbaik hati menolong mengangkatnya.
Perjuangan Abah Amir bukan tanpa air mata. Ia sering kali harus membayar mahal Rp 70.000 per hari untuk menyewa becak atau motor agar bisa pulang pergi ke tempat berjualan, sementara penghasilan bersihnya rata-rata hanya Rp 50.000 per hari, bahkan tak jarang ia pulang tanpa membawa hasil sama sekali. Kondisi ini jelas membuatnya kesulitan untuk menutupi biaya makan harian dan biaya kontrakan bulanan.
Saat ini, kebutuhan biaya pengobatan tulang Abah Amir sangat mendesak. Penyakitnya tidak hanya membatasi geraknya, tetapi juga sering kali membuatnya kesakitan. Jika tidak segera diobati, kondisinya akan semakin parah dan ia akan kehilangan satu-satunya sumber penghasilan.
Mari bersama-sama wujudkan harapan Abah Amir untuk sembuh dan kembali berdaya. Setiap donasi Anda, sekecil apa pun, adalah dukungan besar bagi Abah Amir untuk mendapatkan kembali kesehatan, bermartabat, dan melanjutkan usahanya.