
Abah Ahmad Soleh kini berusia 97 tahun. Di usia ketika seharusnya seseorang bisa menikmati masa tua dengan tenang, Abah masih harus berjualan gulali setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Selama kurang lebih 50 tahun, berjualan gulali menjadi pekerjaan yang dijalani Abah. Hingga kini, Abah masih berkeliling dan menawarkan gulali kepada para pengendara di sekitar lampu merah Pasirkoja. Meski tubuhnya sudah tidak sekuat dahulu, Abah tetap memilih bekerja karena tidak ingin bergantung atau merepotkan anak-anaknya.
Gulali yang dijual Abah dihargai sekitar Rp2.000 per buah, dengan keuntungan sekitar Rp500 dari setiap gulali yang terjual. Ketika dagangannya laris, Abah bisa membawa pulang keuntungan sekitar Rp100.000 per hari. Namun ketika dagangan sedang sepi, penghasilannya bisa turun menjadi sekitar Rp50.000 per hari.

Dari penghasilan yang tidak seberapa itu, Abah harus memenuhi kebutuhan makan, membeli obat ketika sakit, dan menyisihkan uang untuk membayar kontrakan tempat tinggalnya.
Setiap hari, Abah membutuhkan sekitar Rp20.000 hanya untuk makan. Sementara itu, Abah tinggal seorang diri di sebuah kontrakan di daerah Haur Koneng dengan biaya sekitar Rp300.000 per bulan. Karena penghasilannya tidak menentu, pembayaran kontrakan sempat tertunggak hingga dua bulan dan Abah telah mendapatkan teguran sehingga terancam kehilangan tempat tinggalnya.
Di tengah perjuangannya mencari nafkah, Abah juga harus menghadapi kondisi kesehatan yang tidak lagi prima. Abah mengalami epifora, kondisi yang membuat matanya sering berair terutama ketika terkena angin dan cuaca dingin. Abah juga memiliki benjolan atau seroma di bagian leher sebelah kanan setelah menjalani operasi.
Abah pernah terjatuh dari sepeda ketika sedang berjualan. Akibatnya, Abah mengalami nyeri pada bagian pinggang. Namun karena keterbatasan biaya, Abah hanya mengandalkan obat yang dibeli di warung untuk membantu meredakan rasa sakitnya. Meski begitu, Abah tetap memaksakan diri untuk berjualan. Bagi Abah, tidak berjualan berarti tidak ada penghasilan untuk membeli makanan, obat, maupun membayar kebutuhan tempat tinggal.
Abah sebenarnya memiliki tiga orang anak. Namun seluruh anaknya sudah menikah dan memiliki keluarga masing-masing. Karena itulah, Abah memilih untuk tetap berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri daripada menjadi beban bagi anak-anaknya.
Bahkan dalam perjuangannya berjualan, Abah pernah mengalami kejadian yang menyakitkan. Ia pernah ditipu oleh seorang pembeli hingga kehilangan uang yang dimilikinya dan tidak mendapatkan penghasilan pada hari tersebut. Bagi seseorang yang mengandalkan penghasilan harian seperti Abah, kehilangan penghasilan satu hari saja sangat berarti.
Kini, Abah tidak hanya membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup, tetapi juga kesempatan untuk menjalani masa tuanya dengan lebih layak. Bantuan yang dibutuhkan Abah meliputi biaya pengobatan, pelunasan tunggakan kontrakan selama dua bulan, kebutuhan sehari-hari, serta dukungan modal usaha agar Abah dapat terus berjualan dengan kondisi yang lebih aman dan nyaman.
Abah sudah menghabiskan puluhan tahun bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Di usia 97 tahun, ia masih memilih untuk berjualan daripada meminta kepada anak-anaknya.
Mari hadir untuk Abah Ahmad. Bantuan yang kita berikan dapat membantu meringankan biaya pengobatan, melunasi tunggakan kontrakan agar Abah tetap memiliki tempat tinggal, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan mendukung usaha gulalinya.
Karena di usia senja, Abah tidak seharusnya masih berjuang sendirian hanya untuk mendapatkan makan dan tempat tinggal.❤️

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik