
Setiap pagi sejak pukul 6, tubuh renta itu kembali mendorong gerobak berat seberat 70 kg—menyusuri jalanan sejauh 10 kilometer.
Abah Ahim (92 tahun), penjual ubi keliling, terus melangkah meski napas mulai sesak dan rasa sakit di kaki dan dada semakin sering datang.

Lebih dari 30 tahun ia berjualan, setelah sebelumnya menjadi kuli bangunan selama 20 tahun.
Kini, keuntungan dari satu kilogram ubi hanya Rp2.000–Rp3.000, dan kadang tak cukup untuk makan, apalagi untuk kebutuhan rumah tangga.
Tapi Abah tidak sendiri. Ia masih harus menafkahi istrinya yang kini sudah tak bisa berjalan karena terjatuh tiga kali.
Sang istri hanya bisa terbaring. Biaya obat dan popok lansia tiap bulan mencapai Rp390.000—jumlah yang mustahil terpenuhi dari jualan kecil Abah.
“Kalau rezeki ada,” ucap Abah pelan,
“saya mau bawa istri berobat, benerin gerobak, sama nambah modal jualan.”
Namun kenyataan berkata lain. Abah bahkan pernah ditipu pembeli dengan uang palsu—hingga modalnya habis dan harus mulai dari nol.
Usia 92 tahun. Badan sering sakit. Istri tak bisa bergerak.
Tapi Abah masih terus berjalan, karena tak ada pilihan lain.
Hari ini, kita bisa bantu ringankan beban Abah Ahim.
Agar ia tak harus terus mendorong gerobak sejauh itu…
Agar ia bisa membawa istrinya berobat…
Agar Abah bisa beristirahat lebih tenang di masa tuanya.
Donasi sekecil apa pun, bisa jadi harapan besar bagi Abah dan istrinya.
![]()
Belum ada Fundraiser