
Masa tua seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat. Namun, masih banyak lansia yang harus berjalan jauh dan berjualan sejak pagi demi mendapatkan uang untuk makan.
Penghasilan mereka sering kali hanya beberapa ribu rupiah per hari. Saat dagangan tidak laku, sebagian terpaksa berutang beras, menahan lapar, atau menunda berobat karena tidak memiliki biaya.
Salah satunya adalah Nenek Kurniasih, penjual kicimpring di Bandung. Lebih dari 10 tahun, beliau berjualan sejak selepas Subuh dengan penghasilan sekitar Rp10.000–Rp15.000 per hari.
Ketika tidak memiliki uang, Nenek terpaksa berutang beras ke warung. Namun, setiap mendapatkan hasil jualan, utang tersebut selalu segera dibayar karena beliau tidak ingin membawa utang hingga meninggal.
Di Majalaya, Abah Oso yang berusia 84 tahun masih berjalan sejauh 15–30 kilometer untuk menjual harum manis.
Dalam sehari, penghasilannya terkadang hanya Rp10.000. Saat dagangan sepi, Abah bahkan memilih berpuasa karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Sementara itu, istrinya yang menderita darah tinggi belum dapat berobat karena keterbatasan biaya.
Ada pula Abah Anda, penjual celengan berusia 83 tahun. Setiap hari, beliau berjalan hingga puluhan kilometer dengan penghasilan hanya sekitar Rp7.000–Rp10.000.
Tubuhnya sudah sering terasa pegal dan lelah. Abah berharap memiliki warung kecil di rumah agar tidak perlu terus berkeliling di usia senja.
Kisah mereka hanyalah sebagian dari banyak lansia pejuang nafkah yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup.
Melalui program Bantu Lansia, bantuan akan disalurkan sesuai kebutuhan paling mendesak, seperti:
#OrangBaik, mari bantu para lansia menjalani masa tua dengan lebih layak.
Sedikit bantuan dari kita dapat membantu mereka memiliki makanan, berobat, dan tetap mandiri tanpa harus memaksakan tubuh yang semakin renta.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik