
Saat tulang-tulang mulai menuntut istirahat, Abah Dana justru harus memaksa kakinya melangkah jauh. Sambil menyeret kaki yang patah akibat kecelakaan bertahun-tahun lalu, ia berkeliling menjajakan balon-balon berwarna cerah di bawah terik matahari.

Bukan untuk dirinya sendiri, tapi demi menyambung napas sang istri yang sedang sakit di rumah. Seringkali, Abah pulang dengan tangan hampa. Bahkan, yang lebih menyesakkan, tak jarang ia pulang dengan air mata karena uang hasil dagangannya ditipu orang tak bertanggung jawab.
Bagi Abah, meminta-minta bukanlah pilihan. Ia punya harga diri yang ia jaga mati-matian, meski perutnya sering kali hanya terisi seadanya. Rumah yang ia tempati pun bukanlah miliknya, dindingnya sudah banyak berlubang, dan lantai tanahnya dingin saat malam menyapa.

Sekarang, kondisinya semakin mendesak. Rasa nyeri di kakinya yang tak kunjung sembuh sudah sangat menyiksa, dan biaya obat untuk dirinya serta istrinya terus menguras habis modal dagang yang tersisa.
Jika kita tidak bergerak sekarang, Abah mungkin akan kehilangan satu-satunya harapan untuk bisa kembali berdiri tegak. Ia tidak meminta dikasihani, ia hanya butuh kesempatan. Sedikit uluran tangan kita hari ini adalah napas baru bagi Abah dan istrinya.
Bantuan dari kita bukan hanya soal uang, tapi tentang menjaga martabat seorang suami yang menolak menyerah pada takdir. Mari bantu Abah Dana mendapatkan pemeriksaan medis yang layak dan modal usaha agar di masa senjanya, ia bisa sedikit lebih tenang.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik