
Di usia 77 tahun, Abah Atang masih harus berjualan telur asin demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Setiap hari, sejak pukul 5 pagi hingga 5 sore, Abah berangkat dari rumahnya, menggunakan kereta menuju Bandung. Setelah itu, beliau berjalan kaki menyusuri kawasan Braga, Asia Afrika, hingga Pajajaran sambil membawa ratusan telur asin.
Setiap butir telur dijual seharga Rp5.000, tetapi keuntungan yang Abah dapatkan hanya sekitar Rp1.000. Pekerjaan ini telah beliau jalani sejak tahun 1960-an.
Kini, Abah hidup seorang diri setelah istrinya meninggal dunia sekitar 20 tahun lalu, sementara anaknya pergi merantau.
Di tengah perjuangannya, Abah beberapa kali mengalami kejadian pahit. Beliau pernah menerima uang palsu senilai Rp250.000, kehilangan telepon genggam karena dicopet, hingga kehilangan uang Rp17 juta di rumahnya.
Abah juga memiliki gangguan penglihatan. Kacamata yang biasa digunakan terjatuh dan pecah, sementara biaya untuk menggantinya mencapai sekitar Rp2 juta.
Meski tubuhnya semakin renta, Abah tetap memilih bekerja dan hidup mandiri. Harapannya sederhana: mendapat tambahan modal usaha, memiliki kacamata baru agar dapat melihat dengan lebih jelas, serta sebuah televisi untuk menemani hari-harinya di rumah.
Melalui program Bantu Lansia, bantuan akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan Abah Atang dan lansia pejuang nafkah lainnya, seperti modal usaha, kebutuhan kesehatan, pangan, dan penunjang kehidupan sehari-hari.
#OrangBaik, mari ringankan perjuangan Abah Atang agar beliau tidak harus terus berjalan jauh seorang diri di usia senja.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik