
Di usia 75 tahun, Abah Edi Koswara masih harus berkeliling menjajakan pempek demi memenuhi kebutuhan hidup bersama istrinya.

Sejak tahun 1980-an, Abah Edi merantau dari Palembang dan berjualan pempek buatan sendiri. Setiap hari, ia mulai beraktivitas sejak pukul 05.30 pagi hingga sekitar pukul 15.00 sore.

Namun, hasil jualannya tidak menentu. Pernah dalam 3 hari, Abah Edi hanya mendapatkan Rp10.000. Ketika dagangannya tidak laku, ia terpaksa berpuasa atau hanya minum air putih agar bisa bertahan tanpa makan.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, Abah Edi juga harus menahan rasa gatal, panas, dan perih akibat eksim parah yang dideritanya. Karena tidak memiliki uang untuk membeli obat, ia bahkan pernah mengoleskan cabai atau sambal ke kulitnya saat eksim kambuh.

Padahal, cara tersebut berisiko memperparah iritasi pada kulitnya. Abah Edi membutuhkan pemeriksaan medis dan pengobatan yang layak, tetapi keterbatasan biaya membuatnya belum bisa mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.
Kesulitan Abah Edi dan tidak berhenti sampai di situ. Di kontrakan yang mereka tempati, ia dan istrinya masih tidur beralaskan karpet tanpa kasur. Mereka juga memiliki beban sewa kontrakan yang harus tetap dibayarkan.
Di usia senja, Abah Edi masih berusaha memenuhi kebutuhan mereka berdua dengan berjualan keliling. Namun, dengan kondisi kesehatan yang menurun dan penghasilan yang tidak menentu, kebutuhan sehari-hari semakin sulit dipenuhi.
Saat ini, Abah Edi membutuhkan bantuan untuk:
Yuk, bantu ringankan beban Abah Edi agar ia bisa menjalani hari tua dengan lebih layak

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik